Rabu, 12 September 2012

3 Amalan Yang Tak Terputus :)

Khutbah Pertama

Jamaah sidang jumat yang dirahmati oleh Allah

  Pada suatu hari Imam Al-Ghazali bertanya pada muridnya "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman,dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "MATI". Sebab,itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 185



Artinya : Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS Ali-Imran : 185)

  Apabila kita renungkan nasehat imam Al Ghazali yang bersumber pada firman Allah tersebut,maka jelaslah kita akan mengetahui bahwa hal yang paling dekat dengan diri kita ini,bukanlah hal duniawi yang bersifat materi semata,melainkan kematian,dan setiap makhluk bernyawa pasti akan mengalami hal yang bernama mati,sebagaimana janji Allah dalam surah tersebut.Pertanyaannya,sudahkah kita siap jikalau malaikat izrail datang menjemput kita sewaktu waktu untuk menghadap-Nya disaat yang tidak kita sangka-sangka?tentunya,siap tidak siap,kita semua harus siap.

 Jamaah sidang jumat yang dirahmati oleh Allah

Kemudian,di surah Al-Hasyr pun,Allah SWT berfirman,



Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS Al Hasyr  : 18-19)

  Firman Allah diatas telah menjelaskan bahwasanya setiap manusia (yang masih hidup),di perintahkan oleh Allah,menyiapkan diri untuk Hari Esok.Jadi,bukan saja kita harus siap setiap saat ketika malaikat izrail datang menjemput kita untuk menghadap-Nya,akan tetapi kita juga harus menyiapkan segala sesuatunya sebelum ajal  dan Hari Esok itu tiba.Lalu,apa maksud kata “hari esok “ yang terdapat di ayat tersebut?Para ulama tafsir menafsirkan bahwasanya yang di maksud dengan kata “Hari Esok” pada ayat tersebut,adalah Akhirat.

Jamaah sidang jumat yang dirahmati oleh Allah

  Kehidupan dunia yang bersifat fana (sementara) ini,sejatinya adalah sebuah ladang amal bagi kita,ladang untuk menanam kebaikan-kebaikan yang akan kita panen hasilnya ketika di hari kiamat dan di akhirat kelak.Karena sesungguhnya di akhiratlah kita akan hidup abadi dan kekal,dan dunia yang fana ini,adalah ajang untuk kita mempersiapkan diri di hari esok tersebut,yaitu akhirat.Oleh karenanya,ketika di akhirat nanti,manusia sudah tidak ada daya dan upaya lagi untuk berbuat sesuatu hal yang dapat menyelamatkan dirinya.Akan tetapi,Rasulullah SAW bersabda

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya : “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)
Dalam hadits tersebut,rasulullah SAW menjelaskan,bahwa,setiap manusia yang meninggal dunia,semua amalannya di dunia akan terputus kecuali 3 perkara,yang pertama sedekah jariyah,yang kedua ilmu yang bermanfaat,dan yang ketiga do’a anak yang sholeh.

Jamaah sidang jumat yang dirahmati oleh Allah

  Sebagaimana yang telah disebutkan hadits diatas,bahwasanya perkara pertama adalah sedekah jariyah.Dalam hal sedekah jariyah ini,para Ulama telah sepakat untuk menafsirinya dengan wakaf untuk kebaikan.Menurut Imam al-Suyuti (911 H) ada 10 amal yang pahalanya terus menerus mengalir, yaitu: 1) ilmu yang bermanfaat, 2) doa anak sholeh, 3) sedekah jariyah (wakaf), 4) menanam pohon kurma atau pohon-pohon yang buahnya bisa dimanfaatkan, 5) mewakafkan buku, kitab atau Al Qur’an, 6) berjuang dan membela tanah air, 7) membuat sumur, 8) membuat irigasi, 9) membangun tempat penginapan bagi para musafir, 10) membangun tempat ibadah dan belajar. 

  Namun perlu kita fahami,bahwasanya sedekah jariyah tidak terbatas pada hal-hal tersebut diatas saja,melainkan sangat luas,selama itu memberikan manfaat untuk umat,contohnya ketika kita mewakafkan tanah kita untuk pembangunan jalan,maka selama jalanan itu dipergunakan oleh masyarakat luas,pahala kita pun akan terus mengalir kepada kita,atau menanam pohon mangga/belimbing,sehingga buahnya bisa dinikmati oleh banyak orang,atau pohon beringin sehingga orang lain bisa berteduh,maka selama hal-hal tersebut memberikan manfaat bagi orang banyak,pahala pun akan terus mengalir kepada kita meskipun kita telah tiada.Berkontribusi dalam pembangunan masjid pun,sangat besar pahalanya,selama masih ada yang memanfaatkannya sebagai tempat beribadah keapada Allah,sebagaimana yang termaktub dalam sebuah hadits,  

“Barang siapa yang membangun sebuah masjid karena mengharapkan keridhaan Allah SWT,maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga”. (HR Bukhari dan Muslim)

Jamaah sidang jumat yang dirahmati oleh Allah

  Perkara yang kedua adalah ilmu yang bermanfaat.Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang telah kita amalkan,kemudian kita ajarkan kepada orang lain.Apabila orang yang kita ajarkan ilmu kita tadi mengamalkannya,maka pahala kita akan mengalir terus menerus,meskipun kita telah tiada.Maka,jadilah kita seorang guru,pendidik,atau setidaknya bimbinglah anak kita untuk menjadi gruru atau pendidik tersebut,atau mendirikan sekolah-sekolah juga pesantren pesantren,sehingga ilmu yang bermanfaat bisa di ajarkan kepada orang banyak. 

  Di zaman sekarang ini,kita bisa memberikan ilmu yang bermanfaat kepada orang banyak sekaligus,walaupun tidak dalam keadaan formal atau bertemu langsung,katakanlah jika kita membuat sebuah buku,lalu ilmu bermanfaat yang ada di buku tersebut di baca dan diamalkan jutaan orang,maka sungguh banyak pahala yang mengalir kepada kita.Atau mungkin ketika kita membuat sebuah website atau stasiun TV atau stasiun Radio,kemudian kita menyebarkan ilmu yang bermanfaat melalui media-media tersebut,keudian  banyak orang yang menyimak dan mengamalkannya,maka,sungguh sangat banyak pula pahala yang akan mengalir kepada kita.Lalu bagaimana jika ilmu kita terbilang pas pasan dan juga kita tidak memiliki harta yang cukup untuk membuat hal-hal tersebut diatas?jangan berputus asa,karena sesungguhnya kita masih bisa berkontribusi,dengan membantu ulama dalam menyebarkan ilmu yang bermanfaat dalam pengajian-pengajian,atapun majelis-majelis taklim.Sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW

 مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya”. [HR Muslim, no. 3509]. 

  Jadi jika kita turut andil dalam menyebarkan ilmu yang bermanfaat, insya Allah, Allah akan melihatnya dan mencatatnya sebagai amal kebaikan.

Jamaah sidang jumat yang dirahmati oleh Allah

  Perkara yang ketiga adalah doa anak yang shaleh.Apabila kita memiliki anak shaleh yang senantiasa medoakan kedua orang tuanya ketika masih hidup maupun telah wafat,maka Insya Allah,kita pun akan mendapat pahala akan hal ini,karena ini adalah imbalan dari Allah untuk hamba-hamba-Nya yang telah berhasil mendidik anaknya menjadi anak yang shaleh.Seorang ibu jangan takut “meninggalkan” kantor untuk fokus mengurus anaknya di rumah,karena biar bagaimanapun,peran keluarga dalam pendidikan anak,sangatlah penting dimasa awal-awal pertumbuhan.Dan Al-Quran pun telah memberikan kita petunjuk,bagaimana cara mendidik anak kita.Dalam surah Lukman,Allah berfirman,


Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (QS. Luqman : 13-14)

  Apabila kita mencermati ayat diatas,maka kita dapat mengambil beberapa pelajaran dalam mendidik anak di ayat tersebut.Yang pertama,pendidikan paling dasar yang harus ditanamkan kepada anak kita sejak masih kecil,adalah aqidah,karena masalah aqidah adalah hal yang tidak bisa ditolerir di dalam ajaran Islam.Oleh karenanya,Luqman menasehati anaknya agar tidak menyekutukan Allah,karena hal tersebut adalah kezaliman yang besar.Yang kedua,adalah akhlak kepada ibu bapak atau orang tua.Seorang anak di ajarkan untuk senantiasa menghormati kedua orang tuanya yang telah mengandung,menyapihnya,dan merawatnya hingga sekarang ini.

  Maka dari itu,apabila kita ingin memiliki anak yang shaleh,kita tanamkan padanya pengetahuan-pengetahuan agama yang baik,bukan hanya memberinya pengetahuan-pengetahuan duniawi saja.Jangan gengsi untuk menyekolahkan anak kita di sekolah berbasis agama Islam ataupun di pesantren,karena pada akhirnya,anak merupakan salah satu kunci kebahagiaan kita hidup di duni dan akirat,dan juga masa depan seorang anak bergantung dari bagaimana cara kita memberikannya pendidikan sejak dini,dari lingkungan keluarga.Lalu,bagaimana jika kita tidak memiliki anak kandung?di hadits tersebut tidak di jelaskan apakah harus anak kandung atau tidak,dan Rasulullah pernah bersabda, 

  Dari Abu Ummah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang membelai kepala anak yatim karena Allah SWT, maka baginya kebaikan yang banyak daripada setiap rambut yang diusap. Dan barang siapa yang berbuat baik kepada anak yatim perempuan dan lelaki, maka aku dan dia akan berada di syurga seperti ini, Rasulullah SAW mengisyaratkan merenggangkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya.” (Hadits riwayat Ahmad)

  Dari hadits tersebut telah jelas bahwa orang-orang yang memelihara dan menyantuni anak yatim dengan penuh kasih sayang,Insya Allah akan masuk surga,dan surganya pun bukan surga tingkat rendah,melainkan surga yang dekat dengan Rasulullah,bagaikan jari telunjuk dan jari tengah.

Khutbah Kedua

 Jamaah sidang jumat yang dirahmati oleh Allah

  Dalam Khutbah pertama,khatib telah menjelaskan 3 amalan manusia yang tak akan terputus meskipun manusia tersebut sudah meninggal,diantaranya yang pertama adalah sedekah jariyah,ilu yang bermanfaat,dan doa anak yang shaleh.Semoga apa yang khatib sampaikan pada siding jumat siang ini,dapat bermanfaat untuk jamaah sekalian,termasuk juga diri khatib sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar