Selasa, 31 Januari 2017

Nasihat

Hari 31/365

31 Januari 2017

Hari ini salah satu konsulenku mengulangi nasihatnya lagi, bahwa kesuksesan terbesar bukanlah ketika kamu bisa sukses lanjut sekolah lagi, tapi lebih penting lagi adalah keluargamu bisa utuh. Mau bagaimanapun suksesnya dirimu, kalo keluargamu hancur, ga akan berarti apa-apa kesuksesan individumu itu. Jadi dek, jangan menangkan ego masing-masing, utamakan keluarga, keluarga tetap nomor satu dek. Dan jangan sekali-kali anakmu nanti kamu kasi makan dari hasil rizki yang "abu-abu", ga berkah dek, bisa hancur juga keluargamu. Kurang lebih seperti itulah nasihatnya.

Ini bukan kali pertama beliau menasihati kami. Apa aku bosan? Tentu saja tidak. Aku senang mendengar nasihat dari siapapun selama nasihat itu berisi kebaikan. Dan terkadang, layaknya paku yang harus dipukul menggunakan palu beberapa kali agar menancap dengan mantap, begitupun nasiha. Kadang nasihat harus diulang berkali-kali atau disampaikan dengan cara yang extrim biar menancap mantap di dalam diri.

Maka, bersyukurlah ketika masih banyak orang yang berbaik hati mau memberimu nasihat secara gratis. Apalagi nasihatnya berdasar pengalaman pribadinya. Setidaknya, kita bisa belajar dari nasihat itu dan mungkin suatu saat nanti bisa menghemat waktu.

Senin, 30 Januari 2017

Kasih Sayang Orang Tua

Hari 30/365

30 Januari 2017

Dulu waktu masih kecil, kalo orang tuaku marah, pasti diakhir akan menasihati "kalo orang tua itu masih marah, berarti masih sayang! Kalo kamu jalan emtah kemana masih dicariin, itu juga karena orang tua masih sayang!". Maklum saja, dulu masih kecil seumuran SD aku memang sudah suka pergi jalan bersepeda kemana-mana dengan kawan-kawanku. Dan kawan-kawanku ini, mungkin buknlah anak ideal yang patut untuk dijadikan kawan bagi orang tua kebanyakan waktu itu.

Dan dulu juga masih belum ada yang namanya hp buat anak kemarin sore kayak aku. Kecuali beberapa anak-anak orang kaya. Dan aku serta kawan-kawanku bukanlah anak orang kaya. Bahkan kebanyakan kawan-kawanku ini katamya sih, anak-anak madesu waktu itu. Sampai hari ini aku belum tau kabar mereka, siapa tau saja ternyata masa depannya lumayan cerah. Kembali ke nasihat tadi, waktu kecil mana aku paham maksud nasihatnya itu.

Nah beranjak gede, dengan bertambahnya umur, mulai berkembangnya pikiran, dan merantau jauh dari rumah serta keluarga, barulah aku mulai faham nasihat-nasihat orang tuaku waktu kecil dulu. Semarah-marahnya orang tua terhadap anak, sebenarnya dalam kemarahannya ada sebuah bahkan banyak buah kasih sayang. Kadang bisa berwujud sebuah kekhawatiran yang tertumpahkam dalam kemarahan. Dan kasih sayang orang tua kepada anaknya ini ga akan pernah tergantikan dengan kasih sayang siapapun.

Dulu waktu kecil, aku ingin jadi cepat dewasa. Biar babe sama mama ga bakal marahin aku. Dan ya, sekarang aku sudah tumbuh beranjak dewasa dan lupa kapan terakhir kali aku dimarahin. Bahkan sekarang pun aku sudah jarang ditelpon kecuali menelpon. Mungkin ini kali ya rasanya jdi dewasa yang dulu kuinginkan. Tapi dengan begini apa orang tuaku sudah ga sayang sama aku? Tentu saja enggak! Setiap orang tua pasti akan masih dan akan terus menyayangi anaknya sampai kapanpun. Putra kecil seorang ayah, akan selalu menjadi putra kecil bagi seorang ayah, berapapun usianya.
Duh be, kangen aku be, duitku juga udah mulai menipis nih be, tolong kirimin duit ya be.

Minggu, 29 Januari 2017

Move On

Hari 29/365

29 Januari 2017

Permah nonton film you're the apple of my eyes? Aku pernah, dan aku suka filmmya. Film itu jadi salah satu film favoritku. Bukan karena pemerannya yang memang cantik. Tapi, okelah, itu masuk juga sih. Aku suka film ini karena film ini hampir realistis. Film ini ga mainstream kayak film-film percintaan lainnya yang berakhir bahagia dengan bersatunya kedua pemeran utamanya.

Film ini kreatif banget, menyentuh sekaligus juga lucu. Kenapa kubilang hampir realistis? Karena memang, dalam kehidupan nyata, tidak semua kisah percintaan akan selalu berakhir bahagia  bersama dengan si dia. Kadang kenyataan yang harus dihadapi ga sesuai dengan ekspektasi. Pdkt lama, eh jadiannya sama yang lain.

Tapi kata-kata yang paling kuingat dari film itu, "masa paling romantis adalah maaa pendekatan, pada saat sudah benar-benar jadian, banyak perasaan yang akan sirna", makanya aku sangat menikmati setiap proses pendekatan kepada wanita siapapun itu. Meskipun aku dituding sering lamban yang akhirnya berujung kegagalan yang harus membuatku kembali move on lagi dan lagi.

Tapi yasudahlah, jodoh memang ada ditangan Tuhan, klo jodoh, yang sering ngasih pertemuan singkat juga bisa bakal kalah kok sama yang ngasih pernyataan dan pertanyaan singkat, "aku pengen nikah sama kamu, kamu mau ga?" duh jadi pengen nonton ulang filmnya deh. Yakali bisa memperlancar move on. Btw, ini lagunya kodaline juga enak lho dinikmatin buat yang lagi atau pengen move on.

Sabtu, 28 Januari 2017

Boys Day Out

Hari 28/365

28 Januari 2017

Siapa bilang hanya anak perempuan yang punya hari keluar? Anak laki-laki juga punya kali. Setidaknya itu yang kami lakukan di hari sabtu, sebut saja Boys Day Out. Kami keluar bersama, kemudian renang bersama. Setelah renang, dilanjutkan juga makan, minum, sambil ngobrol. Siapa sangka konsulen yang terkenal cukup "kereng" ternyata punya sisi baik yang tidak terduga.

Dan hal yang mengejutkan lainnya, beliau punya keahlian renang yang cukup oke. Pantas saja berani menantang kami yang dianggap beliau "Anak Pulau". Oh iya, jadi boys day out kemarin aku lakukan bersama dua kawanku, yang pertama, Muhtar yang menjadi kawan sekelompokku, yang kedua Jimi yang dulu menjadi seniorku di stase pediatri, dan dr. Lukman SpA selaku konsulen kami semua.

Persamaan kami bertiga ini adalah, sama-sama DM yang pernah kena "umbah" beliau, begitulah isitilahnya. Kalo jimi bilang sih, disikat, di skak mat. Kalo aku bilang, di "KIE". Jangan tanya maksudnya kami diapakan, pokoknya ya gituah, kami merasa menjadi senasib. Tapi siapa sangka, bahwa akhirnya kami malah bisa akrab dengan beliau. Mungkin hikmah karena sama-sama pernah "diumbah". Renang kemarin cukup menyenangkan.

Beliau ini punya stamina yang bagus ketika renang. Selain itu beliau terlihat sangat menikmati renangnya. Sangat jauh berbeda denganku dan Jimi yang notabennya anak sungai dan laut. Apalagi si Muhtar. Renang kami terlihat seperti renang karena ingin selamat, sedangkan beliau, renangnya terlihat seperti renang karena ingin sehat. Tapi dari semuanya, boys day out kemarin sangat menyenangkan dan mengesankan. Lain kali mungkin bisa dicoba lagi ya dok.

Jumat, 27 Januari 2017

Ketakutan

Hari 27/365

27 Januari 2017

Dulu bagian paling kutakuti dari RS ketika masih kecil adalah Kamar Mayat. Siapa anak kecil yang ga takut kamar mayat? Ga ada. Jangankan kamar mayat, kamar gelap aja anak kecil pasti udah takut. Tumbuh agak besar dikit, aku kemudian sadar bahwa ternyata lorong rumah sakit ga kalah menyeramkan dari kamar mayat. Juara dua lah, juara satunya tetap kamar mayat, belum tergantikan.

Tapi, beranjak lebih dewasa, ketakutanku terhadap hal-hal seperti itu mulai sirna. Selain karena mulai berpikir realistis, hal ini juga di dukung dengan pengalaman ketika mengikuti sebuah acara pengambilan badge pencak silat Tapak Suci ketika MA dulu di pemakaman Pakuncen. Jangan tanya apa yang kulakukan dan dilakukan terhadapku waktu itu disana. Karena  waktu itu aku lebih berharap bertemu pocong daripada bertemu senior.

Dan sampai saat ini, sudah sirna ketakutanku meskipun harus berjalan sendirian di lorong rumah sakit yang sepi tengah malam. Dan aku baru sadar bahwa ternyata, ketakutan masa kecilku terhadap ruangan sepi dan malam hari apalagi di rumah sakit, masih ada di beberapa  benak orang. Bahkan orang yang lebih tua dariku.

Kalo ditanya ketakutan sih, aku lebih takut dibegal preman berbadan besar bawa pisau rame-rame dijalanan sepi daripada dibegal pocong. Yasudahlah, takut itu memang wajar, paling tidak bukti bahwa masih ada naluri manusia didalam diri ini. Kalo sudah tidak ada ketakutan sedikitpun, berarti itu robot, bukan manusia.

Kamis, 26 Januari 2017

Keranjingan Buku

Hari 26/365

26 Januari 2017

Sedari awal januari hingga kini, setidaknya sudha hampir 3 buku yang kubaca. Namun belum satupun ada yang kureview. Targetku tahun ini adalah membaca 50 buku. Nafsu membaca ini juga disertai dengan nafsu belanja. Belanja buku tentunya. Sebula mungkin aku bisa membeli 2 sampai 3 buku baru, meskipun belum tentu akan segera terbaca, karena buku-buku baru sebelumnya pun masih tersegel rapih.

Mungkin begini kali ya rasanya jadi orang yang keranjingan sama sesuatu. Katakanlah keranjingan mainan, maka kadang ga peduli semahal apapun mainannya, pasti bakal diusahakan untuk dibeli. Sama kayak aku sekarang, seminim apapun duitnya, paling enggak bisa cuci mata lah liat-liat buku di toko buku. Dan hari ini, aku baru membuka kiriman paket buku baru yang kupesan online beberapa waktu yang lalu.

Jadi, kalo ditanya kado atau hadiah apa yang bisa bikin aku seneng? Cukup belikan aku buku, maka aku bisa senang. Tapi siapa emang yang sudi ngado atau hadiahin kamu jom?!

Rabu, 25 Januari 2017

xXx: Return Of Xander Cage

Hari 25/365

25 Januari 2017

Selain bisa tidur nyenyak dan lelap, nikmat lain yang patut kusyukuri akhir-akhir ini ialah nikmat libur jaga malam. Biasanya, libur jaga malam terpakai untuk terlelp dalam istirahat yang khusyuk. Tapi malam ini aku membuat pengecualian. Karena aku sudah jarang merayakan dan menikmati malam, maka malam ini aku putuskan untuk pergi nonton film xXx: Return of Xander Cage di bioskop.

Sebenarnya ada dua pilihan, film xXx: Return Of Xander atau Residemt Evil: The Final Chapter. Keduanya film laga bagus dan kuikuti sedari seri pertama. Hanya saja, karena penononton film xXx lebih sedikit, aku pilih saja nonton film xXx. Filmnya tidak mengecewakan, ya  menghiburlah meskipun jalan cerita dan beberapa adegannya film banget. Beberapa hal mungkin juga menjadi lelucon sarkastik untuk sebuah pemerintahan.

Meskipun bertabur aktor laga, tapi rasanya kok kurang maximal ya perannya. Maksudnya, adegan-adegan berantemnya kurang ah. Padahal ada Donnie Yen, Toni Jaa, Vin Diesel, eh bahkan ada Neymar juga! Yang jelas, ada beberapa kejutan di film ini. Overall, not bad lah buat film laga yang udah seri ke 3. Lah, ini kok jadi kaya ngebahas film ya? Eh tapi tau sesuatu? Bikin film itu, ga mudah, melelahkan, dan berpotensi makan biaya banyak. Aku pernah ngalaminnya.

Bukan, bukan jadi aktor laga kayak Vin Diesel, tapi waktu itu jadi aktor proyek film ilmu gizi jaman semester 3 dulu. Jadi, usahakan untuk menghargai setiap karya orang lain, minimal dengan menikmatinya secara resmi. Nonton film di bioskop misalnya. Tapi kalo kepepet sih, ya mau gimana lagi ya, ya sabar deh nunggu filmnya keluar biar bisa streaming atau copas dari temen. Kalo udah gitu, ya udh, jangan banyak cing cong deh ya kalo filmnya ga sesuai ekspektasi.

Btw, beberapa adegan di film ini, hanya bisa dilakukan Xander Cage dkk xXX, jadi jangan coba-coba menirunya di rumah. Kecuali kamu sudah direkrut August Gibbon menjadi anggota xXx.

Selasa, 24 Januari 2017

Nikmat

Hari 24/365

24 Januari 2017

Setiap orang punya kenikmatan sesuai versinya masing-masing. Begitupun aku. Dan bagiku, kenikmatan versiku sekarang adalah bisa tidur malam dengan nyenyak dan pulas tanpa ada intervensi apapun, termasuk suara dari ventilator. Sebagai manusia, aku juga butuh istirahat dan tidur bukan? Lah smartphone aja bisa gabis baterainya dan minta di charge, apalagi manusia kan? Termasuk mas dokter muda.

Jadi, semalam adalah salah satu kenikmatan yang hakiki bagiku karena aku bisa tidur nyenyak dan lelap meskipun harus bangun pagi lagi untuk melanjutkan kegiatan sebagai DM. Dan terkait berita seorang pejabat yang beberapa waktu lalu melakukan sidak sambil membawa-bawa media, aku sih no comment dah, mungkin beliau su lelah, begitupun saya, sa su lelah. Atau mungkin juga beliau rindu acting.

Senin, 23 Januari 2017

Aksara Semesta

Hari 23/365

23 Januari 2017

Nama anak itu bagus, jarang pernah kudengar nama seperti itu, Aksara, Aksara Semesta. Itulah nama anak itu. Bagus bukan? Dia adalah salah satu pasien penghuni PICU/NICU dengan kelainan distres pernafasan karena dia lahir prematur. Aku penasaran bagaimana rupa kedua orang tuanya yang memberikan dia nama yang bagus ini.

Ternyata orang tuanya adalah pasangan muda yang masih cukup romantis. Dan Aksara ini, adalah anak pertama mereka. Setiap tirai dibuka dan kedua pasangan muda ini melihat anaknya yang sedang tergolek lemah di inkubator, tidak ada gurat kesedihan di wajah mereka. Yang ada adalah wajah antusias dan air muka bahagia melihat anak pertama mereka ini.

Ketika ayahnya konsultasi denganku, tidak kudengar suara pesimis dari lelaki muda ini. Yang kudapat adalah suara ketabahan, ketegaran, dan optimisme. Duh nak, kudoakan kau segera sembuh agar kedua orang tuamu bisa lebih bahagia lagi. Semoga kondisimu segera membaik dan bagus ya nak, sebaik kedua orang tuamu dan sebagus namamu, Aksara Semesta.

Minggu, 22 Januari 2017

Melelahkan dan Menyenangkan

Hari 22/365

22 Januari 2017

Apa yang kamu butuhkan ketika lelah? Istirahat, tidur, tidurlah barang sejenak. Ya, sepanjang perjalanan pulang kemarin sampai di kos, yang kulakukan adalah istirahat, tidur. Perjalanan dan kegiatan kemarin memang cukup melelahkan namun tetap saja, selalu menyenangkan seperti biasanya. Dan kemarin adalah diklat ke 4 yang aku hadiri sedari berstatus sebagai maba 5 tahun yang lalu. Semoga tahun depan masih diberikan kesempatan untuk hadir dalam acara DIKLAT EMR SPINE. Sekarang, matikan lampu, mari kita istirahat sejenak.

Sabtu, 21 Januari 2017

Hal Yang Ingin Diperbaiki

Hari 21/365

21 Januari 2017

Ketika sesi tanya jawab dalam forum bebas sharing time bersama calon anggota muda EMR SPINE, salah satu dari mereka bertanya kepadaku, "apa hal yang pengen mas perbaikin saat ini?", pertanyaan yang bagus tapi sulit untuk kujawab. Aku bingung bagaimana harus menjawabnya, karena pertanyaan ini tidak seperti pertanyaan-pertanyaan sebelumnya yang hanya seputar perkuliahan. Sambil berpikir untuk menjawabmya dengan gamblang, aku hanya celetuk, "banyak dik". Dan seketika itu juga aku akhirnya mendapat jawabannya.

Hal yang ingin kuperbaiki saat ini adalah sikap dan ketegasan terkait wanita dan perasaan. Aku sering gagal dalam hal wanita dan perasaan karena kadangkala telat dan tidak tegas dalam bersikap. Mungkin rasanya ditolak tidak akan lebih menyakitkan daripada rasanya ditikung, dibalap, ditekel, atau diserobot. Karena kalo ditolak, setidaknya sudah ada sikap. Kalau gagal sebelum diterimu atau ditolak, berarti belum ada sikap sama sekali.

Tapi sebenarnya memang banyak hal yang ingin kuperbaiki saat ini. Dan masalah wanita serta perasaan, hanyalah salah satu dari beberapa hal tersebut dan bukan merupakan prioritas. Hal yang mungkin lebih prioritas untuk kuperbaiki saat ini adalah ibadah. Ibadah adalah hal paling priotitas saat ini yang harus kuperbaiki, baik kualitasnya maupun kuantitasnya. Ah iya, aku lupa untuk berterima kasih atas pertanyaan tersebut. Jika pertanyaan tersebut tidak terucap, mungkin butuh waktu untuk aku instropeksi diri.

Jumat, 20 Januari 2017

Harapan Baru

Hari 20/365

20 Januari 2017

Dua hari aku absen menulis jurnal. Tentunya dengan kesengajaan karena aku ingin menikmati akhir pekan sejenak ditengah dinginnya hawa Coban Rondo tanpa terganggu gadget dan isinya. Setiap orang yang kalah butuh pengalihan bukan? Pengalihan untuk tidak mengatakan pelarian. Aku sebenarnya benci untuk mengatakan bahwa aku sedang kalah (lagi). Oleh karenanya aku butuh pengalihan. Dan Coban Rondo adalah tempat pengalihan yang kupilih.

Bukan keputusan yang terburu-buru, tapi memang sudah kurencakanan sejak jauh-jauh hari karena bertepatan juga dengan acara DIKLAT yang sedang dihelat oleh adik-adik EMR SPINE. Aku ga ingin berspekulasi, tapi sempat terlintas dipikiranku seakan-akan semua ini memiliki benang merah dan saling berhubungan. Seakan-akan aku kalah (lagi) dan kemudian aku mendapat pengalihan dan hiburan berupa acara yang bisa membuatku reuni dengan kawan-kawan dan adik-adikku di Coban Rondo ini, adalah sebuah skenario perasaan diawal tahun ini.

Tapi hal yang cukup mengesankan, adalah nama bis yang kutumpangi untuk pergi ke Malang. Bis ini bernama Harapan Baru, seakan-akan dia berusaha menyemangatiku yang sedang kalah ini. Menyemangatiku untuk harus tetap berjalan sambil membawa harapan baru. Toh tahun ini masih panjang. Dan mungkin saja harapan baru bisa kutemukan dalam perjalanan atau di ujung tujuanku nanti.

Pada akhirnya, aku memang sudah tidak bisa berharap pada harapan lama. Aku harus menjadi seperti bis ini, berjalan dengan membawa Harapan Baru. Dan semoga, harapan baru nanti bisa disikapi lebih tegas dan lebih cepat, agar tidak mengalami kekalahan seperti sebelum-sebelumnya lagi. Dan yang tidak kalah penting lagi, semoga saja Harapan Baru seperti yang tertera pada bis itu, bukanlah Harapan Palsu.

Kamis, 19 Januari 2017

Menang Layaknya Jagoan

Hari 19/365

19 Januari 2017

Kupikir hal yang bisa membuatku histeris adalah kekalahan-kekalahan. Mengapa begitu? Karena dengan kalah, artinya aku pernah berjuang, namun perjuanganku ternyata hanya membuahkan kekalahan. Kekalahan dalam masalah hati misalnya. Tapi ternyata tidak. Bukan kekalahan-kekalahan yang bisa membuatku histeris. Nyatanya, meskipun seringkali kalah dalam masalah hati, aku ga pernah tuh histeris. Kekalahan malah membuatku belajar untuk berlapang dada.

Ada yang bilang bahwa kemenangan itu bakal manis dan nikmat banget rasanya setelah melewati berbagai perjuangan. Apalagi disertai berbagai kekalahan. Ingat, jagoan selalu kalah didepan dan menang belakangan. Sekarang, aku malah berpikir bahwa hal-hal yang bisa membuatku histeris adalah kemenangan. Setidaknya, ada 3 hal yang kemungkinan bisa membuatku histeris. Tentunya 3 hal ini bagiku adalah kemenangan.

Hal pertama adalah, jika akhirnya aku berhasil umroh dengan uang tabunganku sendiri. Sebagai informasi, aku sudah menabung sedari tahun 2013 untuk umroh. Ya emang ga banyak, cuma 5000 rupiah. Dan kemenangan ini belum juga kuraih hingga saat ini. Tapi bukan berarti aku sudah kalah. Hal yang kedua adalah bisa melanjutkan studi lanjut sesuai minat. Masalahnya, kok ya minatnya masih belum bulat, kadang masih suka miring-miring. Ya doakan saja segera bulat dan bisa terwujud nantinya, aamiin.
Dan hal ketiga yang mungkin bisa membuatku histeris adalah, kalo kamu putus dari "gugukmu", terus jadian sama aku. HAHAHA ANJAY!!! Kalo yang ini sih bakal beneran histeris!!! Lah masih bayanginnya aja udah histeris gini, gimana kalo beneran?! Tapi yasudahlah, sementara kalah tidak apa-apa. Berarti kembali belajar untuk tabah dan lapang dada. Karena sekali lagi, jagoan itu selalu menang belakangan.

Rabu, 18 Januari 2017

Macak, Masak, lan Manak

Hari 18/365

18 Januari 2017

Aku selalu suka melihat seorang wanita yang berkacamata. Apalagi jika ternyata dia suka membaca, cerdas dan cukup nyaman untuk diajak diskusi, bicara, atau bahkan bercanda. Entah mengapa, bagiku seorang wanita berkaca mata yang sedang khusyuk membaca sebuah buku, terlihat sexy dimataku. Karena sexy, ga selamanya tentang sensualitas bukan? Kadang sexy juga tentang sebuah intelektualitas. Bahkan, aku berharap suatu saat bisa berkenalan dengan seorang wanita berkaca mata yang sedang membaca sebuah buku sembari menikati secangkir teh atau kopi disudut sebuah kafe.

Tapi kalau ditanya, apakah wanita seperti ini menjadi wanita yang kudambakan sebagai kekasih? Ga juga. Tapi kalau misalnya memang jodoh, ya Alhamdulillah. Meskipun aku menyukai wanita yang berkaca mata dan menyukai buku, tapi tetap saja, wanita yang kudambakan sebagai kekasih adalah wanita yang nyaman untuk diajak bicara dan juga bercanda. Karena pada akhirnya, komunikasi adalah hal yang terpenting dalam sebuah hubungan, apapun hubungannya. Dan hal yang tidak kalah penting, kami harus seiman. Tidak bisa tidak. Karena cinta, bukan hanya tentang menyatukan dua hati saja, tapi ini juga tentang menyatukan dua keluarga besar.

Ah, betapa bahagianya bukan jika nanti berjodoh dengan wanita seiman, sehobi suka baca, dan nyaman ketika diajak bicara dan bercanda? Tentu saja bahagia. Apalagi kalo doi ternyata pinter masak, pinter cari duit, kan bisa sekalian bangun rumah makan selain bagun rumah tangga. Yasudah, sekarang berangan-angan dulu sambil berdoa. Barangkali, besok senin sudah ada titik terang, bisa ketemu wanita yang minimal bisa macak (dandan), masak, lan manak (beranak).

Selasa, 17 Januari 2017

Jejak

Hari 17/365

17 Januari 2017

Entah karena malas atau masih karena lelah, malam ini rasanya masih ingin menunda jurnal ini. Apalagi atau mungkin padahal, malam ini aku jaga malam ruang perin yang mana aku akan terjaga dari tidur. Ga kayak malam kemarin yang tiba-tiba ketiduran. Tapi tadi habis baca tulisan tamagiri, tentang menunda-nunda tulisan, rasanya kayak ketampar bolak balik ini pipi. Mimpi mau jadi penulis, nerbitin buku, lah nulis jurnal beginian aja masih males. Yaudah, lanjut tidur aja deh kalo malas. Biar berjaya dalam dunia mimpi. Mau jadi penulis, ya harus rajin nulis! Setiap hari! Meskipun cuma satu paragraf! Ga ada ide?! Yasudah! Tulis aja ga ada idenya! Gitu berani mimpi jadi penulis.

Latihan, latihan, latihan, baca, baca, baca, nulis, nulis, nulis. Bodo amat ga ada yang baca. Bodo amat ga ada yang nglike. Toh suatu hari nanti kamu sendiri yang bakal baca tulisan ga mutu ini, terus ketawa sendiri. Ketawa karena ternyata kamu pernah memaksa dirimu untuk tetap menulis meskipun lagi ga ada ide, lagi gabut, dan lagi malas. Ketawa karena kamu menang melawan dirimu sendiri waktu itu. Ketawa karena kamu tetap berhasil meninggalkan jejak. Ya, aku percaya bahwa setiap tulisan adalah jejak.

Minimal jejak bagi diri sendiri untuk menapaktilasi perjalanan masa lalu yang penuh liku. Ingat, masih banyak penulis yang lebih sibuk dari kamu. Dan kesibukan itu mereka tetap bisa produktif menulis. Tentu saja produktfitas itu ga didapat dari kemalasan dan penundaan. Jadi, masih mau jadi penulis? Kalo iya, yasudah, jangan malas nulis! Mau jadi penulis kok malas nulis.

Senin, 16 Januari 2017

Bangun Tidur

Hari 16/365

16 Januari 2017

Kemarin aku dilanda kemalasan akut. Bukan, sebenarnya bukan kemalasan, tapi kelelahan mungkin yang lebih tepatnya. Atau mungkin itu hanya mekanisme pembelaan ego. Semalam aku tertidur. Tertidur sedari malam yang katanya masih terlalu pagi, sampai beneran pagi. Hari memang sudah beda, tapi hal yang masih sama ketika aku bangun adalah aku masih menjadi DM.

Tapi tadi malam tidurku kurasa cukup enak dan nyenyak. Ga sadar kapan tertidur, bangun tidur, eh tiba-tiba udah pagi. Yasudah, kembali beraktifitas sebagai DM lagi deh. Tapi, bangun-bangun udah pagi, lebih baik daripada bangun-bangun, eh disamping udah ada cewek yang ga dikenal. Sudah ah, tulisannya ga mutu nih hari ini. Entah karena lelah, entah karena masih malas.

Minggu, 15 Januari 2017

Telat

Hari 15/365

15 Januari 2017

Semalam aku telat lagi untuk posting jurnal. Perin agak sibuk tadi malam. Sedari pagi ada saja OB (orang baru, pasien; red) yang masuk. Sampai tadi malam. Yasudah, telat posting jurnal itu lebih baik daripada telat datang bulan padahal belum halal. Oke, cukup ini saja untuk tadi malam.

Sabtu, 14 Januari 2017

Knock Out

Hari 14/365

14 Januari 2017

Hari ini aku ga enak badan. Jadi bolehkah aku libur nulis jurnal untuk hari ini? Boleh ga?? Oke, kalo ga enak badam masih kurang spesifik, aku jelasin detailnya. Jadi tadi malam aku jaga di RKK, tapi jam 2 aku diminta untuk diperbantukan di ruang Perinatologi yang lagi hectic-hectic-nya. Bukan cantik-cantik-nya ya.

Kalo perin sudah hectic, alamat bakal kurang tidur. Tapi kan hari sabtu?! Iya, dan karena ini hari sabtu, mau ga mau aku harus mau untuk pindahan kos. Oh iya, hari ini aku resmi menempati kos baru. Bukan! Bukan di ruang DM di RS lho ya. Tapi ini kos beneran. Jadi, udah post jaga malam hectic, paginya ga bayar utang tidur, eh malah kerja keras pindahan kos. Dan malam ini, jam 9, tidak, bahkan jam 8 aku sudah mengantuk. Mataku benar-benar sudah kriyep-kriyep.

Bahkan mungkin aku menulis jurnal hari ini dengan mata kadang tertutup karena mengantuk. Hidungku meler, sepertinya rhinitis alergi akibat debu-debu, baik di kos lama maupun kos baru. Dan kali ini aku benar-benar mengantuk. Yasudah, sementara ini dulu, selamat malam, sekamat tidur.

Ps: jurnal ini telat karena ga sengaja ketiduran dan hp mati.

Jumat, 13 Januari 2017

Suara di Ujung Bunyi Telpon

Hari 13/365

13 Januari 2017

Bunyi telpon itu khas. Dulu berdering seperti alarm, kalo sekarang entah seperti apa persamaannya. Tapi telpon sekarang jarang digunakan kecuali di perkantoran untuk memudahkan hubungan satu ruang ke ruang lainnya. Namun jelas, telpon sudah kalah pamor dengan generasi terbarunya, yaitu telpon genggam. Bahkan sekarang namanya jadi telpon pintar. Dikatakan pintar karena telpon-telpon terbaru ini bisa memuat banyak text book berupa pdf yang bisa berguna untuk dibaca dab dipelajari para DM. Meskipun gatau benar-benar dipelajari atau tidak.

Tapi bunyi telpon di ruangan ini seringkali menegangkan bagiku. Karena bunyi telpon adalah salah satu indikasi bahwasanya ada orang baru (OB) yang akan masuk ruangan menjadi pasien. Dan ketika ada OB yang baru masuk, maka akan menjadi sebuah pekerjaan baru bagi siapa saja yang menerima tugasnya. Ah, tapi tau hal yang menyenangkan ketika mengangkat telpon dan menerima kabar bahwa ada akan ada OB dari IGD? Akan ada ilmu baru yang bisa didapatkan atau diterapkan.

Kalo dulu anamnesis di ruangan, maka sekarang dilakukan di IGD. Sangat menyenangkan ketika apa yang telah dipelajari, sesuai dengan apa yang didapatkan pada pasien. Memang melelahkan, tapi tetap saja selalu menyenangkan, karena ada rasa kepuasan batin tersendiri kalo diagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik bener dan sesuai sama dokter spesialisnya.

Ya, itulah sekilas kisah tentang bunyi telpon ruang kanak-kanak yang malam ini sedang kujaga dan sudah beberapa kali bunyi. Dan salah satunya bunyi karena ada OB. Tapi OBnya gajadi masuk sini. Tapi tau hal yang lebih menegangkan dan menyeramkan ketika ada bunyi telpon? Waktu kamu salah angkat gagang telpon yang ga bunyi, tapi ada jawaban dari suara di ujung telpon yang salah kamu angkat tadi.....

Kamis, 12 Januari 2017

TUMBANG (tumbuh dan berkembang)

Hari 12/365

12 Januari 2017

Hari ini aku libur jaga malam. Tapi seperti libur sebelum-sebelumnya, rasanya selalu melelahkan ketika kembali ke kosan. Maksudnya, lelahnya kerasa banget waktu udah sampe di kos. Ah, apakah nanti rutinitas sebagai pekerja juga akan semelelahkan ini? Oh ya, aku baru sadar bahwa harga rumah itu mahal. Semakin kesini, entah kenapa pikiran semakin realistis. Kawan-kawanku mungkin ada yang sedang berpeluh keringat, namun dari keringatnya sudah mengalir pundi-pundi uang yang mungkin emang ga seberapa sih, tapi bisalah ditabung buat bekal nikah.

Terus tadi juga ga sengaja kepoin berita-berita, eh taunya ada aksi bela rakyat 121 yang dilakukan mahasiswa di berbagai daerah. Ternyata aksi ini dilakukan karena pemerintah dinilai ga pro rakyat, harga-harga makin naik, bikin sengsara rakyat. Duh, ya kan, semakin kesini kok kehidupan nyata rasanya jadi menyeramkan ya. Sekarang mungkin aku masih bingung yaa paling uang kos, uang pulsa paketan, uang bensin, uang makan, uang spp, dan itu semua masih dibiayain beasiswa. Beasiswa mama papa maksudnya.

Gimana kalo nanti aku sudah kerja? Uang bulanan bakal nambah bahkan mungkin berubah. Lupakan soal pulsa, kos, makan, dan kebutuhan lainnya yang kurisaukan dimasa kini. Karena dimasa nanti, bakal ada yang namanya uang sekolah anak, belanja bulanan istri, belanja buku (yang ini buat pribadi pastinya), dan kebutuhan kehidupan dewasa lainnya. Dan satu hal yang pasti, setiap manusia yang masih menghirup oksigen di muka bumi ini, pasti akan menapaki fase TUMBANG (tumbuh dan berkembang) ini.

Ah, ternyata tumbuh dan berkembang menjadi dewasa itu emang ga selalu semenyenangkan angan ketika kecil agar bisa nonton film 17+. Kadang tumbuh dan berkembang menjadi dewasa itu juga menyebalkan. Yasudahlah, lagi-lagi aku sudah lelah kali ini. Semoga masa dewasaku nanti tetap semenyenangkan masa kiniku

Rabu, 11 Januari 2017

Tempat Singgah

Hari 11/365

11 Januari 17

Akhir-akhir ini aku jarang pulang ke kos. Aku lebih sering menghabiskan waktuku di rumah sakit. Bukan sebagai pasien yang membayar untuk mendapatkan pelayanan terbaik tentunya. Aku banyak menghabiskan waktuku di ruangan jaga atau ruang DM. Makan, minum, bahkan mandi pun kulakukan disini.

Kalo mandi sih, ya emang karena disini ada air anget, jadi ya lumayanlah buat manjain diri sekalian. Bahkan di ruang Perinatologi, aku sudah memplot satu loker dengan namaku untuk menaruh barang-barang yang sekiranya kubutuhkan, buku-buku, tas, alat mandi, bahkan juga baju ganti.

Mungkin kita memang akan selalu punya sebuah tempat yang nyaman untuk disinggahi sejenak. 
Disinggahi lho ya, bukan untuk ditempati. Singgah sejenak, untuk beristirahat. Mungkin begitu juga dengan masalah hati. Ada yang memang sangat amat nyaman, tapi ternyata hanya sebagai persinggahan sejenak, bukan untuk ditempati. Dan kos pun, begitu.

Bukan sebenar-benarnya tempat pulang. Jadi, jangan terlalu terlena pada suatu tempat. Jangan-jangan, itu cuma tempat persinggahan lagi. Sama kayak ruang-ruang DM yang sering kutongkrongin akhir-akhir ini. Atau mungkin juga sebaliknya, jangan-jangan kamu yang sekarang sedang menjadi tempat singgah seseorang.

Selasa, 10 Januari 2017

Intervensi Takdir

Hari 10/365

10 Januari 2017

Siapa yang tau tentang umur? Ga ada. Bahkan seorang bayi yang baru lahir atau berumur beberapa haripun, bisa langsung dipanggil kembali untuk menghadap-Nya. Apa ada yang pernah berpikir bahwa tindakan memberikan bantuan hidup pada manusia yang sedang mengalami masa kritis antara hidup dan mati adalah arogansi manusia untuk mengintervensi takdir? Bukannya rizki, kematian, dan jodoh memang telah ditentukan? Bisa jadi kali ya.

Tapi ini benar-benar pemikiran yang sangat buodoh tentunya. Jika memang begitu, berarti manusia selama hidupnya sudah terlalu arogan, karena setiap tindakan yang diusahakannya adalah intervensi terhadap takdir. Jika memang seorang manusia masih menjadi seorang manusia seutuhnya, tentunya sepaket dengan rasa kemanusiaannya, maka tidak akan ada masalah untuk menyelamatkam nyawa setiap manusia lain.

Apapun latar belakang yang diselamatkan dan meskipun hal itu dianggap arogansi manusia dalam mengintervensi takdir. Karena itulah, sesungguhnya setiap manusia memiliki sifat kemanusiaan. Dan inilah dilema menjadi seorang tenaga medis. Suatu hari pasti akan bersinggunan dengan urusan takdir antara hidup dan mati. Ah entahlah, mungkin hari ini aku terlalu lelah. Yasudah, aku mau istirahat. Selamat malam.

Senin, 09 Januari 2017

Ga Lucu

Hari 9/365

9 Januari 2017

Mungkin hanya perasaanku saja bahwa semakin tinggi status sosial dan kedudukan serta pendidikan seseorang, maka semakin dia juga menjadi orang yang biasanya ga asik. Pagi ini aku mendapat tugas untuk memeriksa pasien kelas 1, tentunya dari golongan menengaah keatas dan cukup terdidik. Tidak seperti pasien yang biasanya kuperiksa di kelas 3, yang kebanyakan dari golongan menengah kebawah dan pendidikan seadanya, para pasien kelas 1 ini sangat berbeda.

Bukan saja pelayananannya, tapi juga sikap para pasien maupun keluarganya. Entah mengapa, aku merasa bahwa pasien-pasien kelas 3 meskipun terkadang ada yang menyebalkan, tetap saja mereka bisa menjadi sangat menyenangkan. Bahkan terkadang aku bisa mengajak mereka bercanda dan tertawa bersama. Sedangkan pasien kelas 1, ah entahlah, mereka sepertinya susah untuk diajak bercanda dan tertawa untuk sejenak melupakan penyakit anaknya yang sedang dirawat. Atau mungkin juga candaannya kurang lucu bagi mereka.

Mungkin mereka terlalu serius sehingga yang mereka butuhkan hanyalah senyuman dan tegur sapa ramah, sebagai pelayanan yang telah mereka bayar. Bukan candaan ga lucu dari siapalah anak kemarin sore ini yang pake jas putih tapi bukan dokternya ini. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Mungkin setiap manusia memang harus ada antitesisnya, ada yang asik, ada juga yang ga asik. Itulah keseimbangan.

Kalo semua orang jadi asik, ya ga ada yang asik dong jadinya. Semoga saja, dengan tingginya pendidikanku nanti, ga akan membuat tinggi hati ini. Dan semoga saja aku masih bisa tertawa, bahagia, dan bercanda kepada siapa saja yang berusaha untuk menghiburku. Yasudahlah, aku bercanda sama pasien-pasien kelas 3 aja, mereka lebih asik biay diajak ketawa, meskipun kadang candaanya garing, alias ga lucu.

Minggu, 08 Januari 2017

Makan dan Kencan

Hari 8/365

8 Januari 2017

Setiap makan di warung SS, pasti mbak atau mas yang menyambut selalu bertanya, "untuk berapa orang mas?", dan ini pertanyaan yang yaaa dibilang menyebalkan sih enggak, tapi menyenangkan juga enggak. Menyenangkan karena aku akan makan menu-menu favoritku dalam rangka mengapresiasi diri, tapi juga menyebalkan karena seringnya aku makan sendirian. Aku bukan orang yang introvert, tapi entah kenapa, aku suka melakukan banyak hal sendirian. Meskipun terkadang juga aku lebih suka rame-rame.

Bukan tanpa alasan aku suka sendirian, karena jika rame-rame, terkadang hanya akan merepotkan. Dan terkadang juga banyak ga jadinya, yang ujung-ujungnya mengecewakan dan akhirnya lagi-lagi kulakukan sendirian. Jadi, daripada kecewa dan ujung-ujungnya sendirian, lebih baik sedari awal kulakukan sendirian aja. Bukan cuma makan, tapi dalam banyak hal. Nonton bioskop, jalan-jalan, main kemana, minggat, olahraga, tidur, sampe mandi. Kadang dalam kesendirian aku menemukan kemerdekaan dalam diri sendiri meskipun sepi. Kadang juga aku bisa menjadi orang yang masa bodo, i'll do it with or without you.

Kadang ada yang geleng-geleng sambil ngejek, "ngenes banget sih, kemana-mana, ngapain aja, sendirian mulu, kayak ga punya temen aja, makanya jangan jomblo!", ah orang-orang kayak gini apa ya bisa pastikan kalo udah ga jomblo bakal ga sendirian mulu? Bagiku sih ga ada jaminan. Mungkin mereka juga harus bisa membedakan antara makan dan kencan. Makan bisa dilakukan meskipun sendirian, karena ini kebutuhan. Dan aku akan makan sendirian ataupun rame-rame dimanapun tempat yang aku suka dan aku pengen, selama punya duit yang cukup.

Tapi kalo kencan, ya namanya juga kencan, mana bisa sendirian. Jadi kalo ketemu aku dimana gitu, entah di warung makan atau di bioskop, atau dimanapun dan aku sendirian, berarti aku lagi makan, lagi nonton, atau lagi jalan-jalan. Tapi kalo ketemu aku berduaan dengan cewek, nah itu baru aku lagi kencan. Jadi, bedakan antara makan, nonton, atau apapun dengan kencan ya.

Jadi, untuk berapa orang mas makannya? Sendiri mbak. Mbaknya mau nemenin mungkin?

Sabtu, 07 Januari 2017

Ojok Gupuh

Hari 7/365

7 Januari 2017

Ada filosofi jawa yang berbunyi, "alon-alon asal kelakon", yang artinya pelan-pelan asal terlaksana. Filosofi ini memang bagus untuk diterapkan. Meskipun memang pelan, paling tidak ada progres maju kedepan, tidak jalan ditempat apalagi jalan mundur. Tapi, tidak selamanya filosofi ini baik dan cocok untuk diterapkan. Pada situasi-situasi tertentu, filosofi ini mungkin kurang tepat. Salah satunya adalah pada kondisi kegawatdaruratan medis.

Pada kondisi kegawatdaruratan medis, maka filosofi "alon-alon asal kelakon" akan berganti dengan filosofi yang berbunyi, "time saving is life saving". Kalo masih alon-alon asal kelakon, ya keburu berangkat dong pasiennya. Tapi, seperitnya ada satu persamaan dari dua filosofi tersebut, yaitu sama-sama ga boleh "gupuh". Gupuh ini artinya mungkin sama dengan terburu-buru atau panik. Karena gupuh hanya akan merusak segala hal yang telah disusun rapih.

Oleh karenanya, pada filosofi jawa, ditekankan alon=pelan, bahkan sampai dua kali, alon-alon=pelan-pelan, asal terlaksana. Akan percuma jika terburu-buru namun hasilnya malah berantakan atau tidak terlaksana sama sekali. Begitupun pada situasi kegawatdaruratan medis, ga boleh gupuh. Memang, folosofnya time saving is life saving, tapi tuntutannya bukan bekerja secara terburu-buru. Tetap harus bekerja secara cepat, namun juga tepat dan cermat, karena ini berhubungan dengan nyawa manusia.

Mungkin filosofi yang jawa lebih klop dipakai ini pada sata pdkt, "kok ga nembak-nembak?, "yo alon-alon wae lah, asal kelakon, gausah gupuh sek, ngko berantakan kabeh" (ya pelan-pelan aja, gausah panik dulu, nanti berantakan semua". Intinya jangan gupuh, tapi kalo sudah ada tanda-tanda mau ditikung, maka situasi ini sudah akan masuk seperti kegawatdaruratan medis, dan filosofi time saving is life saving akan berlaku.

Maka kalo pdkt, kenalilah situasi dan kondisi yang sedang berlaku, jangan sampai mau ditikung mulu! Jadi, sudah ada tanda-tanda ditikung belum? Kalo belum, ya buruan di gas, jangan tunggu mau ditikung, baru di gas, yo telat sob! Apalagi mesinmu cuma mesin motor bebek, eh yang nikung pake mesin mobil Fortuner.

Eh ini kok jadi melenceng jauh ya? Mbuhlah.

Jumat, 06 Januari 2017

Profesi Bermanfaat

Hari 6/365

6 Januari 2017

Terkadang, kita memandang sebelah mata profesi yang mungkin hanya diperuntukan bagi masyarakat yang berpendidikan rendah. Bahkan terkadang juga kita mengganggapnya tidak ada. Hanya ketika kita membutuhkannya saja, barulah kita mengganggap keberadaan mereka. Seperti malam ini, ketika ban motor kawanku yang tiba-tiba bocor di jalan. Apa yang harus kami lakukan? Tentu saja menambalnya. Celakanya, kami yang bahkan sudah lulus sebagai sarjana ini, tidak cukup mampu untuk menambal ban motor yang bocor.

Dan satu-satunya seorang ahli yang bisa menambal ban motor kami, tentu saja tukang tambal ban. Dan jangan kira gampang mencari tukang tambal ban di tengah kota dan di malam hari seperti ini. Meskipun memang, belum terlalu malam. Masih tergolong malam yang aktif untuk para anak kos mencari makan malam. Dan mencari makan malam kali ini terasa lebih gampang dibandingkan mencari tukang tambal ban.

Tapi, mungkin Allah ingin memberiku dan kawanku pelajaran kali ini, oleh karenanya aku dan kawanku akhirnya menemukan tukang tambal ban. Dan pelajaran apa yang kudapatkan hari ini? Aku belajar bahwa serendah atau bahkan setidak berguna apapun profesimu di mata orang lain, suatu saat pasti tetap akan bermanfaat bagi orang lain. Mau tukang tambal ban, buruh bangunan, tukang sapu, bahkan cleaning service sekalipun.

Maka, jangan pernah merasa menjadi seorang pekerja dengan profesi yang paling terbaik dan paling bermanfaat dibanding profesi yang lain. Karena setiap pekerjaan dan profesi, memiliki kebermanfaatan seusai proporsinya masing-masing. Hal yang paling penting adalah jalani profesi dengan sepenuh hati dan tetap berikan manfaat sebaik-baiknya bagi sesama.

Jadi, sudahkah kamu bermanfaat bagi orang lain dengan profesimu saat ini?

Kamis, 05 Januari 2017

Berani Memutuskan

Hari 5/365

5 Januari 2017

Berani Memutuskan

Setiap melihat tanggal lahir para ibu pasien yang mau atau baru saja melahirkan, seringkali aku menertawakan diri sendiri. Bagaimana tidak, di usia yang masih terbilang cukup muda, bahkan ada yang seusiaku, mereka sudah berkeluarga dan memiliki anak. Dan ketika bertemu dengan para ayah bayi ini pun, umur mereka ternyata banyak yang hanya kurang lebih daripada umurku. Mereka memang kebanyakan dari golongan menengah kebawah, dengan pendidikan yang juga ga terlalu tinggi.

Tentunya, para orang tua yang masih menganut faham doeloe-doele berpikiran, daripada sekolah tinggi-tinggi hanya menghabiskan waktu dan biaya, lebih baik menikah saja jika sudah ada yang minta. Meskipun umur masih belasan tahun. Kan lumayan bisa mengurangi beban orang tua. Yang penting nikahnya sah dan suami bisa menafkahi istri. Lalu bagaimana denganku? Yang memiliki pendidikan sedikit lebih tinggi daripada mereka? Yang bisa berbahasa Inggris lebih lancar daripada mereka? Aku hanya menjadi penonton.

Bahkan aku menjadi penjaga para bayi mereka. Jangankan istri, pacarpun aku belum punya. Tapi ini bukan masalah punya pacar atau enggak. Mungkin memang benar kali ya, orang yang ga cerdas itu lebih berani daripada orang yang cuerdas. Lihatlah, mereka berani memutuskan menikah di usia muda meskipun dengan segala keterbatasan yang dimiliki. Bahkan setelah menikah pun, belum tentu bisa hidup nyaman.

Coba tengok para remaja berpendidikan, kebanyakan hanya lama pacaran tapi ga juga lamaran. Entahlah, memang mungkin mereka berani hanya modal nekad, tanpa perhitungan panjang. Sedangkan para pemuda berpendidikan tinggi, terlalu lama menghitung, tanpa berani segera mengambil keputusan. Mungkin ini juga yang bisa membuat orang yang ga terlalu tinggi banget pendidikannya kadang bisa lebih sukses dibandingkan orang yang tinggi banget pendidikannya.

Mereka berani untuk segera mengambil keputusan dan selalu mau belajar dari pengalaman. Sedangakan yang berpendidikan tinggi, karena kurang berani, akhirnya lebih sering "memtuskan". Mutusin pacar maksudnya. Pisah.

Jadi, mau tinggal dimana kita besok? Eh, jadian sama siapa aja belum jelas, udah nanya mau tinggal dimana, NGIMPI!

Rabu, 04 Januari 2017

Hak Terlahir dan Hidup Sehat

Hari 4/365

4 Januari 2017

Kita ga pernah bisa memilih untuk terlahir seperti apa, dari rahim siapa, bahkan memilih untuk mau atau tidak untuk dilahirkan ke dunia ini. Bahkan ada anonim yang berkata bahwa manusia lahir dengan menangis dan mati dengan diam, karena sejak dulu kala sebelum dilahirkan, dia tau bagaimana kejamnya dunia dan mati baginya adalah jalan untuk kembali pulang. Tapi, dilahirkan dari rahim manusia bukankah suatu hal yang patut disyukuri? Setidaknya kau yang masih bisa membaca tulisan ini sudah pasti ga terlahir dari telur kecoa.

Kita memang ga bisa memilih untuk dilahirkan seperti apa dan dari rahim siapa, tapi kita bisa memilih untuk menitipkan dan melahirkan benih terbaik pilihan kita. Maksudnya, kita bisa memilih untuk menitipkan benih kita di rahim siapa, atau meilih benih siapa yang berhak untuk dititipkan di rahim kita (untuk para wanita). Oleh karenanya, untuk menghasilkan benih terbaik dan rahim terbaik, tentunya juga diperlukan usaha terbaik. Salah satunya menjaga kesehatan. Dan menjaga kesehatan, bisa dimulai dengan gaya hidup sehat.

Jangan sampai gaya hidup tidak sehat semasa muda hanya karena mengikuti dan memuaskan hawa nafsu belaka, menjadikan keturunan kita juga ikut menanggung warisan penyakitnya. Dan jangan sampai dia malah menyesal menjadi keturunan kita. Karena dia merasa bahkan dia tidak pernah meminta untuk dilahirkan, apalagi dilahirkan dengan warisan penyakit karena gaya hidup tidak sehat orang tuanya semasa muda.

Jadi, ketika kamu ingin berbuat perilaku "nakal" atau "tidak sehat" semasa muda, pikirkanlah matang-matang dan ingatlah selalu, bahwa keturunanmu kelak berhak untuk terlahir dan hidup sehat. Setiap manusia yang lahir didunia (sebenarnya) tidak berhak ikut menanggung warisan penyakit yang diakibatkan kenakalan masa muda orang tuanya. Oleh karenanya, sekali lagi, pikirkanlah masa depan keturunanmu ketika kamu ingin bebuat nakal dimasa muda.