Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Desember 2016

KAWAN

Untuk urusan cinta dan wanita, jangan terlalu percaya pada lelaki, apalagi jika dia masih sendiri.

Meskipun dia kawan baikmu, bisa jadi dia yang akan menikam dan menikungmu nanti.

Siapa sangka bahwa kawan adalah lawan yang belum menyerang.

Namanya juga lelaki, sering khilaf tapi jarang minta maaf.

Dan pemicu khilaf pada lelaki, biasanya adalah urusan perut atau bawah perut.

Kalau sudah urusan perut atau bawah perut, bahkan kawan terbaik pun bisa tega saling sikut.

Maka, jangan pernah sekali-kali menjadi kawan bangsat dan bejat yang tega menikam dan menikung hanya untuk urusan wanita.

Cukuplah dada wanita yang terlihat terbelah, namun jangan sampai perkawanan kita juga ikut lengah.

Karena aku ingin kita saling terikat sebagai kawan, dan bukan saling sikat sebagai lawan.

Senin, 19 Desember 2016

Dia Sendiri Dalam Sepi

Dia yang sering atau suka memamerkan kesendirian, biasanya orang yang sedang kesepian.

Berkawan matahari senja seraya mengabarkan kepada angin tentang kerinduannya akan kehadiran seseorang.

Sementara waktu terus berputar, dia tetap terus bertualang sendirian meskipun masih dalam kesepian.

Karena meskipun begitu, dia yakin bahwasanya dalam kesendirian dan kesepiannya, dia akhirnya bisa menemukan dan mengenal dirinya lebih dalam.

Dia akan terus bertualang hingga akhirnya seseorang yang tepat akan datang tepat waktu dan diwaktu yang tepat untuk menyudahi kesendirian dan memecahkan kesepiannya.

Dan orang yang tepat itu, bisa jadi adalah orang yang senantiasa menikmati kesendirian yang senantiasa dia pamerkan.

Senin, 12 Desember 2016

EGO

Hanya karena kita berbeda definisi tentang rapih, bukan berarti aku berantakan! Rapihmu itu membosankan.

Well, time flies so fast. Kemarin waktu pengen gondrong yaudah gondrong aja, peduli apalah sama siapapun yang suruh potong rambut. Yang penting tetep sholat, ngaji, kuliah, repeat.

Waktu MA dulu, sebelum segondrong kemarin, salah satu senior pernah kasih nasihat yang masih teringat, bahwa menjadi seorang calon pemimpin itu harus belajar untuk bisa mengalahkan ego.

Rambut gondrong kemarin mungkin salah satu ego yang sudah kukalahkan. Dan semoga ditahun depan semakin banyak ego yang bisa kukalahkan dan kuhabiskan untuk bersiap menjadi seorang pemimpin, pemimpin rumah tangga lebih tepatnya.

Suatu saat nanti, akan tiba masa dimana segala hal harus dikomunikasikan dan dikompromikan, karena kehidupan sudah tidak dilakukan sendiri lagi.

Dan ketika masa itu tiba, aku harus bisa pastikan seluruh ego pribadiku sudah habis ketika masih sendiri, dan yang ada hanyalah rencana bersama, yang juga dilakukan bersama.

Btw, terima kasih ucapan dan fotonya ya @emr.spine

Selasa, 01 November 2016

Masa Lalu

Masa lalu itu ada untuk dikenang, dirindukan, ditertawakan, atau bisa jadi gabungan dari ketiganya.

Aku pernah gondrong waktu masih mahasiswa, dengan keyakinan kurang afdhol rasanya kalo jadi mahasiswa belum pernah gondrong.

Meskipun di jurusanku tidak elok sebenarnya seorang mahasiswa berambut gondrong.
Apalagi gondrongnya kriwul awut-awutan ga karuan.

Tapi ya mau bagaimana lagi, namanya juga waktu itu masa peralihan menjadi mahasiswa senior dengan semangat berapi-api dan ego pun masih tinggi.

Yasudah, nanti kapan-kapan kita gondrong lagi lah.

Btw, thx for this epic pic dude!! @farratibnu @fkgendengnews

Jadi rindu masa lalu :)

Sabtu, 01 Oktober 2016

Kenapa Hari ini Aku Masih Jomblo?


Jika memang kejombloan adalah suatu standar dari kegagalan menjadi seorang pemuda kekinian, maka akulah pemuda kekinian yang gagal tersebut. Diumur yang telah mencapai kepala 2 dan sudah hampir resmi menjadi sarjana, aku masih suka asik sendiri(an). Padahal, coba tengok wanita-wanita kuliahan yang rajin memperbarui foto atau kehidupannya di instagram dan path, mereka terkadang menuliskan curhatan bahwa mereka sudah lelah kuliah, dan ingin segera menikah saja. Lah, kuliah aja udah lelah, gitu minta nikah. Nanti habis nikah mau sambil lanjutin kuliah lagi gitu? Hambok pikir nikah disambi kuliah ki ga kesel tah? MIKIR! Yah, mungkin maksud mereka hanya untuk candaan semata.

Lantas, mengapa aku masih suka sendiri padahal banyak wanita-wanita di dunia maya sana yang sudah minta dinikahin karena lelah kuliah? Ah, sebenarnya aku bingung juga untuk menjawab pertanyaan iseng seperti ini. Jadi, terlepas dari alasan-alasan religius yang membuatku masih suka asik sendiri sampai saat ini, bagiku menjalani sebuah hubungan serius dengan seorang wanita (apalagi dua), bukan untuk sekedar menggantikan status pribadi dari jomblo menjadi pacaran. Bukan pula agar ada yang membersamai ketika makan, minum, main, nongkrong, atau ada yang diapelin ketika malam minggu tiba. Apalagi cuma sekedar dijadikan pendamping ketika wisuda atau pergi ke kondangan nikah. Jika memang ingin menjalin hubungan dengan wanita hanya untuk hal-hal diatas, kupikir ga perlu sampai menjalin hubungan yang serius-serius banget. Sekedar teman cukuplah.

Lagipula, aku sadar bahwa sepertinya aku masih belum bisa menjalin hubungan serius dengan wanita, khususnya dalam waktu dekat ini. Aku masih belum siap jika nantinya tersandera oleh kepentingan-kepentingan seorang pasangan kekasih, if you know what i mean. Sementara, aku masih suka mengedepankan dan memprioritaskan ego dan mimpi masa mudaku. Padahal, sebelum nantinya menjalin hubungan serius dengan wanita yang akan menjadi pasangan, aku harus bisa pastikan bahwa dia juga mendapat tempat khusus di hatiku, berdampingan dengan keluarga besar, mimpi masa muda, dan egoku. Dan ya, mungkin yang harus kukalahkan dan kuhabiskan dulu sedikit demi sedikit, demi mempersiapkan tempat khusus untuknya adalah ego dan mimpi masa mudaku sendiri. Toh kesendirian juga membuatku lebih leluasa terhadap diriku sendiri. Mau jalan-jalan kemana tinggal jalan aja. Gausah banyak pikiran mumpung masih sendirian. Besok-besok kalo sudah punya pasangan, belum tentu bisa se-ego pengen makan dimana ya tinggal makan. Karena kelak ketika sudah ada pasangan, semua harus dikomunikasikan, atau mungkin dikompromikan.

Alasannya terlalu naif? Klise? Normatif? Iya, gapapa. Ada yang bilang, mending jomblo, tapi tiba-tiba sebar undangan nikah, daripada pacaran lama, tapi ga nikah-nikah. Toh bagiku hubungan serius bukan untuk sekedar dipamerkan ke khalayak ramai kan? Apalagi sampai menjadi konsumsi publik. Ya, pada akhirnya tulisan ini mungkin hanya dianggap sebagai mekanisme pembelaan ego terhadap kejombloan yang masih kualami hingga hari ini, atau tepatnya malam minggu ini. Tapi tenang, akan ada suatu hari nanti ketika aku memposting tulisanku, aku sudah tidak lagi sendirian, mungkin juga sudah tidak lagi jomblo. Dan ketika hari itu tiba, mungin aku sedang tidak menuliskan tentang kejombloan. Jadi, kenapa hari ini aku masih jomblo? karena hari itu masih belum tiba.

Jumat, 19 Agustus 2016

Power Ranger dan Kejombloan

Mau kuberitahu suatu rahasia? Tentang mengapa aku jomblo? Tapi janji, jangan beritahu siapa-siapa ya! Jadi, sebenarnya kami ini adalah para Power Ranger! Dan aku adalah Alpha Ranger, alias pemimpin Ranger ini.

Dan untuk melindungi orang2 yg kami sayangi dari musuh2 kami, kami harus menjaga identitas kami. Meskipun begitu, selalu saja ada celah bagi para musuh kami untuk menyakiti orang2 yg kami sayangi.

Oleh karenanya, sebagai pemimpin para Ranger, aku memilih untuk jomblo, karena tidak ingin orang yg kusayangi nanti disakiti oleh musuhku. Atau juga, nanti aku malah tersandera kepentingan terhadap orang yg kusayangi.

Secara, aku kan Alpha Ranger, pemimpin para Ranger, pasukan penjaga planet bumi, dan Ranger paling keren pula. Ingat, ini rahasia kita aja ya! Jadi, kalo ada yg bilang aku atau anggota rangerku jomblo karena nasib, itu bener! Nasib kami jadi Power Ranger, dan aku jadi pemimpinnya pula!

Huft, jadi kangen sama para Ranger. Kuy lah, 2 tahun lagi kita laksanakan misi perjalan lagi ya Ranger! Untuk sementara, kita jaga perdamaian di sektor masing2 saja.

Kiri ke Kanan:
Ranger Driver - Sidoarjo
Ranger Bungul - Probolinggo
Ranger Banker - Bangil
Ranger Pinter - Jember
Ranger Nebenger - Probolinggo

Kamis, 18 Agustus 2016

Sering


Pergi (sering) sendirian, pulang (selalu) bawa kenangan.

Karena bonus perjalanan bukan cuma pemandangan dan pengalaman, tapi juga orang2 baru yg menjadi kawan dan kenangan.

Jangan takut jalan meskipun hanya sendirian.

Karena dengan kesendirian, kadang kamu bisa lebih mengenal dan lebih dekat dengan dirimu sendiri dan diri-Nya.

Ini di Gunung Lawu, Desember tahun lalu.

Selasa, 09 Agustus 2016

Utang Rindu


Kau pikir tidak lelah rindu melulu tapi tidak pernah bertemu? Tentu melelahkan.

Karena rindu hanya bisa dibayar lunas dan tuntas dengan cara bertemu.

Dan jauh, kadang menjadi musuh untuk kita bertemu.

Hanya saja, jauh terkadang tidak selalu terdefinisikan sebagai sebuah jarak.

Karena jarak terjauh bukan ketika kita terpisah oleh bentangan ratusan, ribuan, bahkan jutaan kilometer, tapi ketika kita sedang berhadapan namun saling mendiamkan, atau ketika kita saling bertatap muka dan mata, namun tak saling sapa.

Jadi, kapan bisa kubayar lunas lagi rindunya?

Selasa, 05 Juli 2016

Terima Kasih Bu Guru!

Jurnal Digital

30 Ramadhan 1437 / 5 Juli 2016 / hari 30

Terima Kasih Bu Guru!

Sore tadi aku kembali menghadiri buka bersama. Namun, buka buka bersama kali ini cukup berbeda. Karena kali ini buka bersama dalam rangka temu kangen dan reuni akbar lintas angkatan SD Muhammadiyah Paser, sekalian juga menginisiasi pembentukan keluarga alumni. Meskipun aku lebih suka menyebutnya reuni mini. Dengan persiapan dalam waktu yang minimalis dan panitia serta peserta yang juga minimalis karena mendadak, mereka tetap berhasil mengadakan acara yang keren dan asik maximal.

Kemudian, yang membuat buka bersama kali ini juga berbeda, para panitia yang keren-keren ini mengadakan acaranya di SD Muhammadiyah dan turut mengundang para dewan guru. Dan Alhamdulillah, beberapa guru senior dapat menghadiri acara ini dan mereka masih mengenal para muridnya, termasuk aku sendiri. Aku bisa melihat kebahagiaan dan keharuan bu Rini, salah satu guru senior dan juga guru yg kuhormati semasa SD ketika beliau memberikan sambutan saat acara tadi.

Berada pada suasa seperti ini dan diantara para guru-guru SD, membuatku merasa seperti menjadi murid SD kembali. Mereka adalah orang-orang berjasa yang membuatku terbiasa mengucapkan salam dan mendahulukan kaki kanan ketika masuk ruang kelas, membuatku hafal lagu Sang Surya dan lagu-lagu Muhammadiyah lainnya, membiasakanku tadarus beberapa surah Al Quran sebelum pelajaran dimulai, membiasakan kami sholat dzuhur berjamaah sedari kecil, dan masih banyak lagi ilmu lainnya, selain mentransfer ilmu-ilmu duniawi.

Kadang kita terlalu sibuk buka bersama kawan-kawan lama dengan tema reuni, tapi jarang mengajak para guru sekalian ikut reuni. Padahal, masa indah pada saat sekolah, bukan saja bersama kawan-kawan lama. Terkadang kenangan bersama  para guru pun cukup lucu dan menyenangkan untuk dikenang, meskipun itu berupa cubitan di lengan.

Jadi, terima kasih kepada adik-adik panitia yg keren-keren yang hari ini sudah kembali membuatku merasa menjadi murid SD lagi, dan terima kasih para ibu Guru yang sudah berkenan hadir menemui anak-anakmu yg bandel-bandel ini.

Semoga selalu sehat, penuh berkah, dan senantiasa dalam lindungan Allah ya bu guru, dan terima kasih untuk ilmu serta doanya selama ini. ☺

#alumnisdmuhtgt

Senin, 04 Juli 2016

Menata(p) Masa Depan

Jurnal Digital

29 Ramadhan 1437 / 4 Juli 2016 / hari 29

Menata(p) Masa Depan

Mereka berdua adalah dua orang dari sebagian kecil kawanku di kampung yang membuatku tidak merasa asing ketika pulang kampung. Mungkin karena sebagian hidupku lebih sering kuhabiskan di kampung-kampung orang, aku kadang merasa asing di kampung sendiri. Mereka berdua adalah Hendra dan Fajar. Kami bertiga sudah bersahabat sejak lama.

Bahkan aku dan Hendra sudah berkawan sedari TK. Persahabatan kami bertiga bisa dibilang unik. Kami lebih sering bertengkar, berdebat, saling mengejek, saling membunguli, saling rasan-rasan, dan kadang saling benci, tapi tetap saja selalu main dan tertawa bertiga. Bungul banar jar orang banjar.


Ketika idul fitri setiap tahunnya, kami pun selalu kompak untuk jalan-jalan silaturahim kemana-kemana bertiga. Mungkin kami bersahabat seperti anak kecil, tapi aku suka. Kami bertengkar, berdebat, ribut, bahkan frontal, tapi selalu diakhiri dengan tertawa. Tidak ada dendam sama sekali, hanya tawa saja dan kemudian bertengkar lagi, berdebat lagi, ribut lagi. Tadi sore kami mengadakan buka bersama kawan-kawan lama dan lagi-lagi yg pertama kali datang kami bertiga, padahal kami tidak janjian.

Sebenarnya aku lebih suka menyebut buka bersama tadi sore sebagai pesta bujang. Ya, karena salah satu dari kami pada bulan ini akan mengakhiri masa lajangnya secara hakiki. Aku turut bahagia, tapi juga sedikit khawatir. Apa besok ketika sudah berpasangan, dia masih bisa kami ajak main bersama? Bertengkar lagi, berdebat lagi, ribut lagi? Kalaupun tidak bisa, maka maklum adalah keharusan.

Mungkin ini juga sebagai pengingatku bahwa aku sudah beranjak tua dan (semoga) dewasa. Beberapa kawanku bahkan akan dan sudah membangun rumah tangga. Diumur yang sekarang, sudah saatnya selain selalu bermain dan menikmati hidup, aku juga harus mulai untuk menata dan mempersiapkan diri untuk kehidupan masa depan secara serius.

Jadi, selamat (akan) menempuh hidup baru ya Hen! Tetap asik dan tetap usik sama kita ya! Dan semoga rumah tangganya nanti sakinah, berkah, dan berprestasi, aamiin. 

Semoga aku sama Fajar bisa segera nyusul juga ya! 

PS: kalo buka bersama, jangan lupa sholat bersama (jamaah) juga ya! ☺

Minggu, 03 Juli 2016

Syarat Melamar Wanita

Jurnal Digital

28 Ramadhan 1437 / 3 Juli 2016 / hari 28

Syarat Melamar Wanita

Tausiyah sehabis isya di Masjid Syuhada tadi diisi oleh Dr. Kastolani, MA. Beliau adalah kepala pengadilan agama Kab. Paser. Sekilas tampak masih muda. Tema malam ini pun sesuai dengan latar belakang beliau, yaitu problematika rumah tangga. Kupikir ini akan membosankan, karena sepertinya lebih cocok bagi para orang yang telah berumah tangga.
Tapi ternyata dugaanku salah. Selama 30 menit, aku betul-betul memperhatikan materi tausiyah beliau. Beliau membuka tausiyahnya dengan mengatakan bahwa konsep keluarga muslim itu bukan sakinah dan bahagia, tetapi sakinah dan barokah. Jika dikatakan bahagia, sangat tidak realistis.

Tidak realistisnya semisal, ketika seorang suami selingkuh, apa istri akan tetap bahagia? Atau ketika keluarga sedang susah dan bermasalah, apa juga akan bahagia? Tentu tidak. Rasul dan para sahabat pun ketika berumah tangga, tidak selalu bahagia. Tetap ada masalah dan duka. Karenanya kepada orang yang menikah, sunnahnya kita doakan agar sakinah dan berkah, bukan sakinah dan bahagia. Bahkan beberapa ulama memakruhkannya.

Dan yang paling menohok adalah, ketika beliau menghimbau kepada para wali wanita bahwa sebaiknya menambahkan mahar atau syarat kepada lelaki yang ingin melamar anak wanitanya, yaitu sholat shubuh 40 hari berjamaah di masjid. Jika belum bisa, lebih baik jangan diterima lamarannya. Karena orang yang bisa istiqomah sholat shubuh minimal 40 hari, InsyaAllah dapat membina rumah tangga dengan baik.

Kunci keberhasilan rumah tangga keluarga, terletak dari sholatnya. Begitupun keretakan sebuah keluarga. Tidak jarang orang yang berantakan rumah tangganya, ternyata sholatnya pun berantakan. Bahkan beliau mengatakan bahwa di era modern sekarang, rumah tangga baik dan stabil itu merupakan prestasi. Fastainu bi shabri wa sholah, maka, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu.

Jadi, kamu yakin sudah siap bangun rumah tangga bulan syawal besok? Bangun shubuhan berjamaah di masjid sudah belum? Kalo belum, hati2, nanti rumah tangganya ga berprestasi lho! 

PS: ini juga nasihat buat diri sendiri ☺

Sabtu, 02 Juli 2016

Teguh Berhijrah

Jurnal Digital

27 Ramadhan 1437 / 2 Juli 2016 / hari 27

Teguh Berhijrah

Aku punya kawan lama, sebut saja namanya Teguh. Setiap bulan ramadhan tiba, pasti aku selalu bertemu dengannya. Seringnya di masjid ketika melaksanakan taraweh. Begitupun ramadhan kali ini, aku kembali bertemu dengannya.

Namun kali ini ada sedikit perbedaan dibandingkan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Aku bertemu dengannya di dalam masjid, di shaf terdepan ketika sholat isya hendak dimulai. Bahkan, dia lebih seregep melaksanakan ibadah sholat sunnah. Keesokannya, aku datang sedikit lebih awal. Ternyata, Teguh sudah kembali mengisi shaf terdepan, sambil membaca mushaf Qur'an.

Teguh ini kawan seumuran dan seangkatanku. Namun, dia sekarang telah bekerja. Beberapa kawanku pun tau betul bahwa Teguh sempat memiliki catatan hitam dalam masa lalunya. Namun siapa sangka bahwa Teguh yang meskipun memiliki masa lalu yang buruk, ternyata mampu menjadi pribadi yang lebih baik? Setidaknya dia datang lebih awal ke masjid, masih mengisi shaf terdepan di akhir ramadhan, dan masih mau membaca Qur'an.
Bahasa kerennya sekarang, Teguh lagi berhijrah. Maka benar saja, setiap orang yg memiliki masa lalu yang buruk, maka dia juga punya hak yang sama untuk memiliki masa depan yang lebih baik. Bisa jadi orang yang hari ini gemar tampil dengan rambut terurai warna warni, mengenakan pakaian semi bikini dan rok mini, besok adalah orang yang paling rapat menutup aurat.

Sebagai muslim, aku diajarkan bahwa tugas manusia bukan untuk mencatat dosa orang lain, itu tugas malaikat. Apalagi sampai menghakimi, menyalahkan, mengkafirkan, atau malah menerakakan seseorang. Tugasku adalah saling mengajak, manasihati, atau minimal saling mendoakan dalam kebenaran dan kesabaran. Toh pahala dan dosa, serta surga dan neraka bukanlah monopoli seorang manusia, tapi hak prerogatif Allah subhanahu wa ta'ala.

Jadi, masih galau malam minggumu mau ngapain? Ya kali ga malu sama si Teguh yang datang lebih awal ke masjid, ngisi shaf depan, dan baca Qur'an. 😄

Jumat, 01 Juli 2016

Babeku Petani

Jurnal Digital

26 Ramadhan 1437 / 1 Juli 2016 / hari 26

Babeku Petani

Dulu aku sering bingung ketika mengisi form tentang profesi ayah (babe). Kupikir profesi sebuah pekerjaan yang membutuhkan jam kerja dan seragam. Polisi, tentara, guru, dan dokter adalah profesi yang kutau. Padahal babe juga punya jam kerja, pagi dan sore. Pun seragam kerja, kaos lengan panjang kumal, sepatu boot safety, topi, dan cangkul. Iya, profesi babeku adalah petani.

Aku memang keturunan keluarga petani dari garis ayah. Kaiku (kakek) seorang PNS di dinas pertanian. Babe juga alumni sekolah pertanian ketika sekolah setingkat SMA dan kuliah di jurusan pertanian. Dia adalah orang yang membuktikan padaku bahwa jurusan pertanian pun bisa mencetak petani. Aku bingung, ketika jurusan kedokteran mencetak dokter, jurusan psikologi mencetak psikolog, aku belum pernah dengar jurusan pertanian mencetak petani. Aku pun melanjutkan tradisi keluarga sebagai petani, meskipun hanya di harvest moon.

Jauh sebelum orang-orang berbicara tentang passion, babe telah memberikanku contoh nyata apa itu passion. Ya, baginya bertani bukan sekedar profesi, beliau mengatakan bahwa ini juga hobi, olahraga, sekaligus kerja. Beliau sangat mencintai dan berusaha menularkan passionnya ini padaku. Dan tampaknya mulai berhasil. Harvest Moon pun membuatku memiliki impian yang masih kujaga sampai sekarang, yaitu memiliki lahan pertanian dengan peternakan ayam, domba, dan sapi yang bisa kuawasi sambil berkuda. Pelan tapi pasti, ternyata malah babe yg mulai mewujudkannya.

Babe menunjukan bahwa profesi bukan tentang sekedar gengsi. Tapi lebih penting lagi, bagaimana sebuah profesi bisa membuat hidup lebih hidup, dan bisa menghidupi kehidupan. Tetes keringatnya selama bertani nyatanya bisa membuatku sekolah, membeli buku-buku, dan sebagai uang jajanku, selain daripada gaji mama juga sebagai bidan.

Sekarang, jika ada orang yang bertanya tentang profesi babe, maka dengan bangga aku menjawab bahwa profesi babeku adalah petani. Dan akupun akan menyusul dan melanjutkan usahanya sebagai petani suatu saat nanti. Ya namanya juga keluarga petani, mau jadi apapun ya tetap juga bertani. 

PS: Buah naga merah, segar dan manis kayak kamu, minat? PM ☺

Kamis, 30 Juni 2016

Utusan Keluarga

Jurnal Digital

25 Ramadhan 1437 / 30 Juni 2016 / hari 25

Utusan Keluarga

Mudik bagiku adalah hal yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Menyenangkan karena akan kumpul keluarga, melelahkan karena perjalanan yang harus kutempuh. Banyak yang mengira bahwa daerah asalku daerah terpencil karena perjalanan yang harus kutempuh. Ketika mudik, aku akan menggunakan moda transportasi udara, laut, dan darat. Mula-mula terbang dari Surabaya ke Balikpapan selama 1,5 jam. Sesampainya di Balikpapan, aku menuju pelabuhan selama 45 menit dan lanjut menyeberangi teluk selama 15 menit menuju Penajam. Sampai di Penajam, aku lanjutkan perjalanan darat selama 3 jam menuju rumah di Tanah Grogot, Kab. Paser. Total perjalananku sekitar 5,5 sampai 6 jam.

Melelahkan? Jelas. Tapi aku anggap ini sebagai konsekuensi sebagai orang yang mendapat amanah menjadi utusan keluarga untuk sekolah ke Pulau Jawa. Dan tidak semua anggota keluarga yang bisa mendapatkan amanah ini. Aku juga bukan orang yang suka pulang kampung terlalu sering. Hanya ketika lebaran aku pulang. Bukan karena melelahkan, tapi karena sungkan. Sungkan karena belum bisa memberi kebanggan nyata sebagai utusan keluarga, selain daripada beban.

Aku jadi ingat hal yang pernah diajarkan salah satu pamanku ketika aku kecil dulu, "orang bugis itu kalo merantau, tidak boleh pulang sebelum sukses!". Aku juga tidak ingin menjadi beban keluarga jika menjadi utusan keluarga yang terlalu manja dengan sering merengek minta pulang atau mengeluh meminta fasilitas ini itu di tanah rantau. Tapi jika hari raya lebaran hendak tiba, dan telah muncul titah untuk pulang, maka sebagai utusan keluarga, semelelahkan apapun perjalanan yang harus ditempuh, aku akan pulang. Memang tidak pernah mudah ketika menjadi utusan keluarga untuk merantau. Apalagi merantau dalam rangka menimba ilmu. Ada amanah dan kehormatan keluarga yang juga turut dibawa.

Dan teruntuk sesama para pejuang utusan keluarga dimanapun berada, demi segala hal yang telah dikorbankan oleh segenap anggota keluarga di rumah untuk amanah yang dititipkan kepadamu, jadilah utusan keluarga yang bisa membanggakan suatu saat nanti ketika telah kembali untuk mengabdi di kampung halaman.

Selamat mudik para utusan keluarga. ☺

Rabu, 29 Juni 2016

Rumah (Tangga) Impian

Jurnal Digital

24 Ramadhan 1437 / 29 Juni 2016 / hari 24

Rumah (Tangga) Impian

Hari ini aku bersama @sriindrakurnia (Iin) melaksanakan rencana yang selalu tertunda beberapa waktu, yaitu nonton film. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya kami batalkan rencana ini tepat di depan kasir. Karena bingung mau ngapain, akhirnya kami memilih duduk dulu sambil berencana untuk mengatur rencana ulang. Meskipun nyatanya kami malah cerita ngalor ngidul sambil membunuh waktu.

Karena bioskopnya mau tutup demi menyambut buka puasa, akhirnya kami putuskan untuk pulang. Dalam perjalanan pulang melewati komplek perumahan dengan rumah-rumah mewah, Iin melontarkan pertanyaan menarik, "kalo aku pengen bangun rumah kayak gitu, perlu kerja berapa tahun ya? Bisa ga ya nanti aku bikin rumah? Tapi kok mama papaku dulu bisa?!". Setiap orang pasti punya rumah impian. Dan bagiku, rumah impian bukan hanya tentang bagaimana bentuk rupanya, apa bahan baku bangunannya, dan apa saja fasilitas pendukungnya.

Rumah impian adalah rumah yang bisa membuatku merasa aman, nyaman, kerasan, serta tidak sabar untuk pulang. Rumah mewah dengan berbagai fasilitas pendukung jika hanya dihuni sendirian, mungkin akan mirip dengan pemakaman. Tapi rumah sempit dan minim fasilitas dengan para penghuni yang menyebalkan, mungkin akan mirip seperti kandang hewan. Maka beruntunglah mereka yang menghuni rumah meskipun sederhana, atau syukur-syukur mewah dengan para penghuni yang menyenangkan.

Jika rumah hanya didefinisikan sebagai tempat mandi, makan, tidur, dan bernaung, maka apa bedanya dengan warung kopi pinggir teras? Tipis mungkin bedanya. Maka definisiku tentang rumah adalah tempat kembali untuk berbagi. Berbagi tentang apa saja. Berbagi roti, mie, nasi, kisah, duka, tawa, luka, cerita, cinta, apa saja. Dan jika aku ditanya rumah impian seperti apa yang aku impikan, maka jawabanku adalah rumah yang bisa menjadi surga kecil bagi penghuninya, dan tempat dimana aku bisa bertemu dan berbagi cerita, tawa, cinta, dan apa saja setiap hari bersamamu nanti.

Ini rumah tangga aja belum dibangun-bangun, kok sudah mikir rumah impian ya? Yaudah deh, jadi kapan siap bangun rumah tangga impian bareng? ðŸ˜„

PS: @sriindrakurnia masih jomblo lho ðŸ˜³

Selasa, 28 Juni 2016

Adios @spermajuara

Jurnal Digital

23 Ramadhan 1437 / 28 Juni 2016 / hari 23

Adios @spermajuara

Beberapa hari yang lalu Inggris menyatakan keluar dari keanggotaan Uni Eropa atau istilah kerennya BREXIT, berdasar hasil referemdum rakyatnya sendiri. Kemudian dini hari tadi ternyata Timnas Inggris pun menyusul keluar dari piala Eropa setelah tumbang dari Islandia. Benar-benar negara yang kompak.

Melihat hal ini, batinku juga seakan ingin melakukan referendum yang telah lama tertunda, yaitu tentang nama akunku. Nama akun yang telah kupakai sejak semester 1 di twitter dan kemudian di Instagram. Nama akun yang menurut beberapa orang lucu, keren, unik, tapi ada juga yang menganggap menggelikan bahkan menjijikan. Tidak jarang beberapa temanku mengusulkan untuk menggantinya, karena mungkin mereka malu ketika aku nongol di kolom komentar akun mereka.

Aku tidak pernah terpikir sekalipun untuk menggantinya, meskipun ada rasa sungkan ketika beberapa anggota keluarga (mbak, mas ipar, sepupu-sepupu) dan beberapa ustadku juga menggunakan instagram dan terhubung denganku. Usulan beberapa teman-temanku yang wanita pun, sering kuabaikan.

Namun ketika referendum itu makin mencuat dan seakan harus dilakukan, aku merasa seperti seorang lelaki yang keras kepala dan terlalu egois, jika harus mempertahankan nama akun yang memang cukup kontroversi ini. Dan bagaimana mungkin seorang lelaki yang keras kepala dan egois bisa menjadi pemimpin yang baik untuk keluarganya nanti? Padahal seorang pemimpin tidak boleh keras kepala dan egois, apalagi hanya demi kebahagiannya sendiri.

Maka, dengan pilihan mengganti atau mempertahankannya, aku mengambil jalan tengah dengan membuat akun baru dengan nama serupa. Ya, aku memang tidak menghapusnya, tapi membuatkannya tempat baru. Tempat dimana dia bisa menjadi wadah berkarya tanpa perlu ada yang terganggu.

Dan teruntuk kawan-kawan yang pernah terganggu dengan akun lamaku, aku mohon maaf sebesar-besarnya. Juga teruntuk kawan-kawan yang pernah memberikan usulan untuk mengganti nama akunku, khususnya beberapa waktu lalu, terima kasih telah menyadarkanku. ðŸ˜„

Dan sekarang, akun @denydwihartanto resmi menjadi akun utama yg berfungsi sebagaimana mestinya. Dan @spermajuara menjadi akun ke 2, yg akan berfungsi sebagai diarygram. ☺
Area lampiran

Senin, 27 Juni 2016

Pertemuan dan Perpisahan

Jurnal Digital

22 Ramadhan 1437 / 27 Juni 2016 / hari 22

Pertemuan dan Perpisahan

Punya rumah kontrakan yang gede, nyaman, dua tingkat, berwawasan lingkungan, fasilitas lengkap, ada tempat buat bbq party, dan rumah kontrakakan mahasiswa terbaik no. 2 seantero dukuh kupang dan sekitarnya, ga menjamin seseorang bisa selalu bahagia. Iya, ga akan bahagia jika yang nempatin hanya SESEORANG. Dan ini yang kualami sekarang. Hanya tinggal berdua dalam satu rumah yang terbilang cukup besar untuk dua orang. Apalagi bagi orang yang terbiasa hidup komunal sepertiku, rumah besar ini terasa sangat luas ketika satu persatu penghuninya mulai meninggalkannya. Meskipun aku akan melakukan hal yang sama pula nantinya.

Memang, dengan perginya para penghuninya, aku seakan menjadi penguasa rumah ini. Bisa tidur dimana saja semauku, parkiran lebih luas lagi, keributan hanya dari suara TV yang dihidupkan, mau mandi tinggal pilih mau make yang mana, dan ada tempat yang cukup luas untuk guling-guling jika mau. Tapi apa artinya semua itu jika tidak ada kawan untuk berbagi? Berbagi sofa, berbagi parkiran, berbagi keributan, dan berbagi kamar mandi misalnya? Bagiku ga ada artinya, semu, palsu.

Aku jadi berpikir, jika rumah sebesar ini yang telah 2 tahun kuhuni dengan kawan-kawanku, terasa sangat sepi ketika akhirnya kuhuni sendiri karena harus ditinggalkan satu persatu kawanku, bagaimana rasanya seseorang yg harus hidup sendiri karena ditinggal orang yg dicintai dalam rumah yg telah dihuni bersama selama bertahun-tahun? Mungkin rasanya seperti separuh hidupnya turut pergi pula. Setiap orang memang akan membutuhkan kawan untuk berbagi, khususnya cinta dan cerita. Dan menemukan orang untuk berbagi cinta dan cerita ini, bukan perkara mudah. Oleh karenanya, ketika akhirnya terjadi perpisahan, pasti bukanlah hal yang mudah bagi kedua belah pihak.

Namun kehidupan harus terus berlanjut bukan? Dan perpisahan adalah keniscayaan ketika terjadi sebuah pertemuan. Yang harus dilakukan, tarik nafas dalam2, hembuskan, tersenyumlah, dan lanjutkan kehidupan.

Jadi, kapan arep bbq party maneh rek? Pokoke seduluran sak lawase yo masio aku duduk wong Jowo ðŸ˜„

Minggu, 26 Juni 2016

Memenangkan Hati Anak

Jurnal Digital

21 Ramadhan 1437 / 26 Juni 2016 / hari 21

Memenangkan Hati Anak

Dalam rangka memperingati Hari Anti Narkotika Internasional setiap tanggal 26 Juni, BNN Kota Surabaya mengadakan Pagelaran Seni Budaya di Taman Bungkul Surabaya. Jika kami para duta mengangkat tema lawan narkoba dengan prestasi, maka BNN mengangkat tema yang tidak kalah menarik, "Listen First, Mendengarkan suara hati anak-anak dan generasi muda merupakan langkah awal untuk membantu mereka tumbuh sehat dan aman dari penyalahgunaan narkoba", itu tema yang diangkat oleh BNN.

Selama ini, orang tua sering menjadi penasehat yang baik bagi anak, akan tetapi sangat jarang bisa menjadi pendengar yang baik. Padahal, hubungan antara anak dan orang tua, haruslah hubungan 2 arah, bukan hanya 1 arah. Tidak jarang anak lebih dekat dan lebih percaya kepada kawannya dibanding orang tuanya. Karena kawannya lebih pandai memenangkan hatinya daripada orang tuanya sendiri. Celakanya, ketika kawannya malah membawa anak-anak ini ke pergaulan bebas atas nama solidaritas. Fakta menunjukan bahwa ketika seorang anak menjadi korban penyalahgunaan narkoba, orang tua adalah orang terakhir yang mengetahuinya.

Upaya perlindungan anak dari penyalahgunaan narkoba memang harus dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Dan sebelum melakukan hal tersebut, orang tua harus terlebih dahulu memenangkan hati sang anak. Jika orang tua gagal memenangkan hati anak, jangan salahkan ketika anak mencari pemenang hatinya yang lain. Sesekali, cobalah menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Terkadang, anak2 sudah terlalu bosan menjadi pendengar yang baik, sedangkan mereka tidak diberi waktu untuk berbicara dari hati mereka. Berikanlah mereka waktu untuk berbicara. Dan sebagai orang tua, sediakanlah waktu untuk mendengar dengan baik suara hati mereka.

Jangan biarkan anak kita mendapatkan pemenang hati yang salah, sementara kita sebagai orang tua malah menjadi pecundang bagi hati anak-anak kita. Menangkan hati mereka dan kawanilah mereka dalam tumbuh sehat, kuat, dan aman dari penyalahgunaan narkoba.

Semoga kita bisa menjadi orang tua yang bisa menyenangkan dan memenangkan hati anak-anak kita, demi terwujud generasi emas Indonesia yang bebas dari Narkoba. ☺

Sabtu, 25 Juni 2016

Melawan Narkoba Berjamaah

Jurnal Digital

20 Ramadhan 1437 / 25 Juni 2016 / hari 20

Melawan Narkoba Berjamaah

Dalam rangka menyambut Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) yang diperingati setiap tanggal 26 Juni, Keluarga Besar Duta Anti Narkoba Surabaya (DANS) 2016 bersama DPD Gerakan Nasional Anti Narkotika (GRANAT) Jawa Timur, melakukan aksi di Taman Bungkul Surabaya sore tadi. Aksi ini berupa pembagian 2500 takjil kepada para warga kota Surabaya disekitar Taman Bugkul, penandatanganan petisi "Wujudkan Jawa Timur Bebas Narkoba", hiburan berupa musik dan sulap dari para anggota keluarga, pembacaan puisi, dan deklarasi generasi muda penerus bangsa menolak Narkoba.

Acara ini juga dihadiri beberapa tamu undangan, diantaranya HDCI Surabaya, TBM SPINE FK UWKS, AISEC Surabaya, Duta Kampus UWKS, Duta UNAIR, LAKAPANZA UWKS, MAPANZA UNAIR, SAMANZA UHT, dan DFC UBHARA. Narkoba memang masih menjadi momok, PR, dan musuh bersama bagi bangsa ini. Oleh karenanya, dalam upaya memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba tidak bisa hanya dilakukan oleh BNN, Kepolisian, GRANAT, atau para Duta Anti Narkoba saja. Perlu kerjasama yang baik dari berbagai pihak. Bahasa kerennya adalah berjamaah. Oleh karenanya, keluarga DANS 2016 menggandeng komunitas dan ukm kampus di Surabaya dalam aksinya tadi sore.

Selain meriah, acara-acaranya pun cukup menarik dan kreatif, dengan menampilkan bakat-bakat dari para anggota keluarga DANS. Sebagai anak muda, mereka memberikan aksi nyata bagaimana cara melawan narkoba meskipun sederhana. Cara mereka adalah dengan berkreasi dalam aksi. Mungkin sudah saatnya anak muda tidak hanya sibuk dengan masalah cinta yang ujung-ujungnya bisa bikin patah hati. Sudah saatnya anak muda sibuk berkreasi dan berprestasi sebagai aksi nyata melawan narkoba.

Yuk bantu kami wujudkan Jawa Timur bebas Narkoba, demi generasi emas penerus bangsa yang sehat dan kuat tanpa narkoba. Kita lawan narkoba berjamaah, dengan berprestasi berjamaah.

Narkoba, No! Prestasi, Yes!
Narkoba, No! Mahmuda...😄

Jumat, 24 Juni 2016

Saudara 86

Jurnal Digital

19 Ramadhan 1437 / 24 Juni 2016 / hari 19

Saudara 86

McD Mulyosari adalah tempat pertama kali kami bersilaturahim sebagai saudara yang sedang merantau di Surabaya. Waktu itu tahun 2012 dan kami masih 5 orang. Namun karena satu dan lain hal, tersisalah kami 3 lelaki yang dipersaudarakan oleh Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta dalam keluarga besar 86. Biasanya ada alumni Muallimin (Muin) dan Muallimaat (Muat) seangkatan yang kuliah sekota. Namun ternyata, seangkatan kami, baik Muin atau Muat, hanya kami bertiga yang memilih Surabaya sebagai kota untuk kuliah.

Karena kuantitas kami yang minimalis, kesadaran kami meningkat untuk memaksimalkan kualitas persaudaraan. Akhirnya kami rajin membuat acara silaturahim bertiga, meskipun sekedar bertemu untuk diskusi mulai dari hal yang sepele sampai yang sepele banget. Tentang kuliah, cewek, mantan, bribikan, jodoh, dan cewek yang lagi nogkrong di meja sebelah kami. Hal ini rutin kami lakukan sedari maba hingga menjadi sarjana seperti sekarang ini. Iya, masing-masing dari kami telah menjadi sarjana meskipun masih menunggu diwisuda. Kenalkan, mereka adalah Mahenda Abdillah Kamil, S.Stat., sarjana ilmu statistik UNAIR, dan Fahmi Nurulil Amri Yunus, S.T., sarjana teknik sipil ITS.

Sebagai saudara, aku memang tidak pernah selalu ada setiap waktu untuk mereka, begitupun mereka. Tapi kami selalu ada tepat waktu dan diwaktu yang tepat ketika masing-masing dari kami saling membutuhkan satu sama lain. Mereka adalah saudara senasib, sepenanggungan, dan sekota yang kuanggap satu tingkat dibawah saudara kandung.

Tahun ini kami akan memulai babak baru dalam kehidupan dan tidak menutup kemungkinan kami akan terpencar kembali. Mahenda dengan usaha yang sedang dirintisnya, dan Fahmi dengan rencana liburannya. Namun Surabaya telah menjadi saksi, bahwa persaudaraan anggota keluarga 86 khususnya di Jatim, bisa menembus batas ruang dan waktu.

Jadi, merantaulah agar kau mengerti bahwa saudara tidak harus sedaerah, sedarah, atau seibu susu saja. Bisa juga berawal dari sekamar mandi atau sepiring nasi. ☺

Wah jadi kangen sodara/i di Malang rek, 26 Agustus kuy jenguk sam Gupon sama wisuda Sulis dkk yes! ðŸ˜„